Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Kini, hari-hari dan tanggal-tanggal terakhir di ujung November ini, berontokkan. Dedaunan kalender mulai menua, kusam, dan tinggal membisu di sudut sunyi dalam ingatan sang manusia.
Lembaran-lembaran sangat meriah yang hampir setahun silam itu tertempel di dalam dinding sadar sang manusia, kini seolah memudar dan sirna ditelan waktu.
Kita berada di ujung tumit duka akhir November, dan arah perhatian kita mulai menyongsong akan kehadiran si unik Desember, si jelita sebagai mahkota dari rangkaian tahunan.
Sehelai kalender usang, mengingatkan kita akan ziarah sang waktu yang akan segera bergegas terhalau.
Kita, sang manusia seolah mulai terjaga dari tidur pulas yang hampir sepanjang tahun 2023 ini mengitari hidup kita.
Di sana pun, ada duka menyayat di dada fana ini. Ada juga percikan lelentik bunga-bunga api rindu resah sepanjang 2023 yang sungguh berwarna. Di sana pun tergambar lagi gontai dan ayunan tangan pilu melambai pergi. Ya, inilah deskripsi bisu sang waktu yang seolah mulai menghentak nurani kita.
Ada kelahiran baru yang membawa gembira, kematian menyayat yang meluluhlantakan semua butir harapan, dan ada juga kecemasan maupun kepahitan yang seolah menggayut di dada batin.
Ya, rentangan waktu sepanjang 2O23 yang berwarna-warni akan segera beranjak pergi.
Tuhan, siapakah aku ini? Siapakah kami di sini? Bagaimanakah akhir, ujung dari segala harapan dan asa di dada kami sepanjang 2023 ini?
Jika memang demikian alur perginya sang waktu, kepada siapa kami harus terus berharap?
Tuhan, Sang Maha Ada, sudilah senantiasa tinggal bersama kami, kini, dan sepanjang masa.
Alfa dan Omega!
…
Kediri, 25ย Novemberย 2023
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

