“Banyak belum tentu cukup, sedikit belum tentu kurang.” – Rio, Scj
…
| Red-Joss.com | Kalau tidak tahu apa-apa itu tidak usah sok tahu untuk membicarakan orang lain. Karena prinsipnya, kalau belum bisa membedakan ‘katanya’ dan ‘nyatanya’ mendingan diam. Karena percuma, berisiknya mereka itu tidak ada apa-apanya.
Selalu ingat kenyataan hidup ini. Garam itu tidak pernah nakal, tapi selalu kena cubit. Cabai itu tidak pernah ribut, tapi selalu kena tumbuk. Gula itu hanya diam saja, tapi dia selalu kena aduk.
Begitu juga dengan kita, meski hidup kita untuk menabur kebaikan, tapi tetap ada orang tidak suka. Kita berdiam diri jadi bahan gosip. Bahkan kita rajin berdoa pun tidak luput dari nyinyiran dan omongan orang. Itulah hidup, kita tidak pernah bisa menyenangkan hati semua orang.
Berdiam itu kadang lebih baik daripada, kita harus berperang dengan ego dan emosi orang lain. Lebih baik dengarkan dan ikhlaskan, orang lain mau bilang dan komentar apa pun terhadap kita. Biarkan saja mereka ingin memandang kita baik atau buruk. Sebab kalau seseorang berpikir negatif dan berprasangka buruk tentang kita, ia tidak akan pernah melihat sisi baik kita dari manapun.
Hidup itu dibuat seimbang saja. Jika mendengarkan kata orang itu seperlunya dan diambil positifnya. Kita mendengarkan kata hati dan berpikir jernih. Lebih baik, kita memaafkan dan mendoakan, karena hal itu yang berkenan di hati Tuhan. Kita tidak perlu membuat semua orang senang, tapi yang utama kita menyenangkan hati Tuhan.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

