“My house shall be a house of prayer, but you have made it a den of thieves” (Luke 19:46).
…
| Red-Joss.com | Sesungguhnya, kita diminta untuk bisa menempatkan diri/menyesuaikan diri. Karena kita sering lepas control. Tidak bisa membedakan, ini tempat yang kudus, tempat untuk main-main, arau bersenda-gurau. Sehingga tempat yang suci untuk berdoa itu berubah jadi “pasar”. Apalagi, ketika di dalam ruang kudus ini, yang dibicarakan bukan hal-hal yang kudus. Menjadi tambah berdosa lagi.
Setiap orang pergi ke rumah Tuhan, menuju ke ruang yang kudus untuk berdoa. Tidak mengganggu yang lain, sama seperti kita juga tidak mau diganggu. Di rumah Tuhan, kita rindu berkomunikasi dan merasakan kedekatan dengan Tuhan, yang tidak ditemukan di tempat yang lain. Itulah ruang doa yang sesungguhnya.
Beda halnya, jika kita berada di rumah Tuhan atau ruang yang kudus itu untuk numpang istirahat atau tidur. Kita tidak mendapatkan apa-apa. Berbeda lagi, jika kita berada di rumah Tuhan untuk melakukan aktivitas yang mirip dengan pasar, sehihgga makin mengotori saja.
Sesungguhnya, kita diajak belajar untuk menjadi peka dan makin peka, ketika ada di mana atau berbicara untuk kepentingan apa. Jangan sampai seseorang menjadi tersinggung, karena kita kurang peka. Khususnya saat kita berada di rumah Tuhan agar menyesuaikan kata-kata, sikap dan tingkah-laku. Kita tidak urakan, tapi tahu diri. Stop bergosip di Rumah Tuhan!
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

