| Red-Joss.com | Saya melihat ada hati yang gelisah, karena semua impian dan cita-citanya belum tercapai. Bahkan, ada pula yang mulai ragu, karena cita-citanya itu tidak akan pernah terwujud.
Bisa dipastikan, jika ada di antara kita yang seperti itu pasti akan segera menyerah. Kita tidak pernah bisa membagi kebahagiaan itu, karena yang dimiliki hanya keluhan.
Saya melihat ada hati yang hancur. Tidak ada yang utuh di dalamnya. Dipotong oleh pengalaman yang menyakitkan, memalukan, dan menghancurkan hidupnya. Terbakar oleh amarah dan kebencian.
Apa pun yang diucapkan dan dilakukan selalu menimbulkan ancaman bagi orang-orang di sekitarnya. Sebenarnya dia tidak puas dan marah pada dirinya sendiri. Karena merasa menjadi korban atas kekejaman yang datang pada suatu waktu. Jika kita berada dalam keadaan seperti itu, dunia pun terasa gelap. Tidak pernah ada kegembiraan dan kegembiraan dalam dirinya.
Saya melihat ada hati yang hidup dalam kepura-puraan. Memoles diri seperti ini dan itu. Berdandan untuk menutupi realitas. Saat sendirian, yang dialami justru sebaliknya, yaitu rasa takut kehilangan jati diri dan tidak bisa lagi menjadi diri sendiri. Jika kita berada pada posisi seperti ini, betapa salahnya kita mendidik diri sendiri. Sulit untuk kembali ke keasliannya, karena terlalu banyak topeng yang dipakai sehingga lupa dengan ‘wajah aslinya’.
Saya melihat ada pribadi yang sangat sabar dan tabah. Meski hidup ini bagai musim gugur selamanya. Merasa bersalah, gagal, dan berdosa selamanya. Tapi, dia tetap kuat dan tangguh!
Ternyata dia mempunyai Tuhan yang diandalkan, dipercayai, dan diagungkan. Dia menyebut dirinya pot tanah liat, biji mata Tuhan, buluh yang terkulai, dan sebagai anak yang hilang. Tapi satu hal yang tidak pernah dia lupakan adalah ‘Metanoia, bertobat dan merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Saya melihat ada hati ini berserah diri di hadapan Tuhan. Dia berjalan tanpa ragu-ragu, kaki serasa ringan, dan dia ke luar sebagai pemenang. Mengapa? Karena hatinya dipenuhi rasa syukur, dan puji-pujian serta penyembahannya hanya ditujukan kepada-Nya Yang Maha Awal dan Omega. Siapa dia? Boleh jadi itu saya, kamu, atau dia
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

