| Red-Joss.com | Kapan terakhir kita jatuh ke dalam dosa? Kemarin, malam tadi, atau baru saja?
Bagaimana perasaan kita, ketika melakukan perbuatan dosa? Biasa, ada rasa sesal yang tertinggal, sedih, atau merasa diri ini kotor?
Begitulah, jika kita beriman, dan mempunyai Tuhan. Setiap dosa yang kita lakukan, membuat kita mempersalahkan diri sendiri. Karena betapa lemahnya kita ini. Sistem kontrol diri ini tidak berjalan dengan baik, karena kita mengabaikan dan menyepelekannya.
Padahal kita telah diingatkan, dibisiki, dan dicegah, tapi nekad. Akhirnya, puasnya sesaat, kita lalu kehilangan semangat. Seolah-olah berjalan dalam kesendirian dan kesepian di tengah padang yang gersang. Tidak ada gairah hidup dan semangat tertutup kesedihan. Kita jatuh ke dalam dosa dan menjadi orang yang berdosa.
Akankah Tuhan datang dan mengatakan seperti ini, “Mari, ikutlah aku.” Kata-kata yang seperti diucapkan untuk Lewi (kemudian dikenal dengan nama Matius), saat sedang duduk di tempai cukai. Dia pasti kaget, padahal selama ini ia dicap sebagai pendosa. Bahkan disebut sebagai orang yang tidak benar atau sakit. Tapi ia ingin sembuh, tapi tidak tahu harus pergi ke mana.
Tiba-tiba, waktunya datang, yaitu ada orang yang memanggilnya. Pribadi itu siap menuntunnya menjadi pribadi yang baik, hidup benar, dan menjadi pribadi yang disembuhkan. Ia dibersihkan dan disucikan dari dosa-dosanya..
Sungguh indah cara Tuhan Yesus mengembalikan martabat kita (ingat pula kisah indah Zakeus yang memanjat pohon ara itu).
Saatnya kita menepi dan menyepi dalam keheningan. Kita buka hati untuk mendengarkan yang datang memanggil dan siap menuntun kita kembali. Kita jangan melakukan dosa dan hidup dalam dosa.
Saatnya kita bangkit berdiri dan mengikuti jalan-Nya, supaya kita bisa menemukan hidup yang tenang dan damai.
Dosa itu harus dihentikan sekarang juga! Kita hindari perbuatan dosa untuk menuju jalan kepada kesucian.
Tuhan memberkati.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

