| Red-Joss.com | Seorang teman tidak lama setelah menerima refleksi iman berbasis perumpamaan gadis bijak dan gadis bodoh, berujar:
“Kalau panjenengan mestinya sudah masuk golongan gadis bijak itu ya, Mas.”
Tegas kujawab: ‘durung’ artinya belum. Ukuran bijak dalam iman tidak bisa diukur hanya dari sudah mempunyai pelita dengan penuh minyak atau belum. Bisa saja ada yang sudah mempunyai dan tandon (simpanan) minyaknya luber-luber (ada di mana-mana) dan menjadi seperti properti (kekayaan) pribadi. Segala jenis minyak dia mempunyai, baik yang super maupun premium, bisa membeli alias bisa menjalani tiap hari seperti doa pribadi tiap pagi, doa lingkungan itu pasti, Ekaristi tiap pagi, minyak orang sakit bahkan juga mempunyai. Tapi… dia melihat semuanya sebagai properti yang melahirkan kepastian surga, kalau mati. Apa iya?
Jika gambaran gadis bijak seperti ini, rasanya tidak bijak. Bagaimana dengan mereka yang tidak dapat selalu seperti itu. Bukan tidak mau, tapi sering terhalang oleh desakan kebutuhan bertahan hidup. Ubek di dapur sejak jauh sebelum subuh, menyiapkan ala kadar cemilan untuk dijual, dititipkan, disambi sambil kerja, atau dijajakan di lapak pinggir kali tanpa tenda, asal ada tatakan dan ‘payu’ (laku).
Bijak, karena sudah punya tandon minyak itu oke. Tapi kalau pelitanya tidak menyala, bahkan hanya diletakkan di bawah tempat tidur, alias tidak bermanfaat untuk orang lain… apa ini juga bijaksana?
“Sana, pergi saja ke tukang minyak, beli sendiri, sebab milikku tidak cukup jika harus dibagi,” begitu reaksi yang bijak, ketika sahabatnya membutuhkan dia.
“Kalau hidup imanmu belum lebih baik dari para ahli taurat, maka pintu abadi belum bisa kau lewati…”
‘Becik ketitik, ala ketara, sapa gawe nganggo’. Tak akan bisa ingkar, hukum semesta.
Salam sehat.
…
Jlitheng

