| Red-Joss.com | Meski tidak meminta maaf, tapi kita harus memaafkan dan mendoakan mereka yang bersalah. Karena mereka tidak tahu yang diperbuat.
Sederhana, tapi kita berjiwa besar dan rendah hati yang seharusnya dimiliki umat beriman.
Jangan bilang hal itu berat dan sulit, karena kita belum atau tidak mau mencobanya.
Ingatlah selalu doa Yesus yang bergantung di salib.
Orang yang berjiwa besar itu selalu berlatih untuk membiasakan diri memaknai setiap tantangan dan permasalahan hidup ini sebagai pintu masuk menikmati berkat Allah.
Coba bandingkan dan rasakan di hati ini, ketika membalas perlakuan buruk atau memberi mereka maaf.
Ketika membalas, mendendam, dan membenci mereka, hati kita menjadi terluka, sakit, dan tidak ada damai. Sebaliknya, jika ikhlas memaafkan dan mendoakan mereka, hati kita pun tanpa beban dan tentram.
Sikapi dengan bijak, apalagi di tahun politik ini. Ketika berjuta orang kehilangan martabat dan hati nurani dengan saling menghujat, memfitnah, dan menyebar hoaks di medsos. Bahkan mereka menutup mata dab tanpa merasa bersalah, karena membela jagoannya agar menang.
Sesungguhnya, dengan menghujat dan memfitnah itu kita meracuni diri sendiri. Sekaligus kita mencari musuh, baik itu anggota keluarga, teman, dan saudara, karena beda pilihan.
Tidak ada gunanya kita ikut-ikutan menyebarkan hal negatif meracuni semesta. Kita harus berani tegas menentukan sikap, karena kita memiliki kasih. Sebagaimana Allah mengasihi kita.
Beda pilihan itu biasa. Tapi menjadi luar biasa, ketika kita berkompetisi secara sehat dan sportif.
Saatnya kita menyikapi dengan bijak dan kendalikan diri. Kita semua bersaudara dan diikat dalam kesatuan Bhinneka Tunggal Ika.
Mari kita suarakan hal-hal baik dan positif untuk Indonesia yang bermartabat dan jaya!
…
Mas Redjo

