| Red-Joss.com | Tentu kita risau, sedih, dan kecewa, ketika kita sakit dan tidak kunjung sembuh. Sehingga kita tidak bisa bekerja dan berkarya.
Sebagai karyawan atau pekerja, bisa jadi upah kita dipotong, atau bahkan minim pemasukkan. Kita harus prihatin, karena tidak mampu menafkahi keluarga secara maksimal.
Begitu pula yang saya alami, ketika tidak mampu berbagi pengalaman hidup, baik berupa motivasi atau inspirasi.
Padahal, saya biasa mendisiplinkan diri untuk menulis di pagi hari, siang, atau malam hari. Tentu saja, semua itu saya jalani di sela kesibukan berwirausaha.
Umumnya, pengalaman hidup itu saya peroleh dari membaca buku rohani, ngobrol dengan pelanggan, atau mengamati perilaku orang-orang di lingkungan sekitar.
Kenyataannya, meskipun saya mencari bahan tulisan itu dengan membaca banyak buku, tapi ide untuk menulis itu macet. Pikiran ini serasa buntu dan dada menyesak seperti hendak meledak.
Berbagai macam cara saya coba untuk mengurai kemacetan dalam pikiran dan hati ini. Kumpul dengan teman, nonton film, jalan-jalan, dan berwisata rohani. Tapi semua itu tiada hasil.
Ketika saya tidak mampu menulis dan berbagi di sosmed itu, banyak teman menanyakan keadaan saya. Mereka khawatir, saya sedang sakit atau ada halangan. Saya terharu, berterima kasih atas perhatian mereka, dan saya berjanji untuk segera menulis lagi.
Padahal, ketika ide macet, dengan membaca Alkitab, ide itu mengalir jernih tiada putusnya. Karena, bagi saya, Alkitab adalah sumber inspirasi hidup sejati.
Faktanya, akhir-akhir ini saya mengalami kebuntuan, meski telah mencoba banyak cara, tapi gagal.
Di saat hati gundah gulana itu saya diingatkan oleh Firman-Nya:
“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3: 5-6).
Ternyata selama ini saya bersandar pada pengertian sendiri. Yang saya bagikan di sosmed itu tidak didasari ketulusan hati, karena yang saya cari itu pengakuan, kepuasan diri, dan wow. “Bendiarani.”
Saya harus mendahulukan kasih, tidak ego saya. Apa pun yang saya bagikan itu hendaknya didasari oleh kasih-Nya. Saya semestinya bersyukur, karena dianugerahi pengertian untuk menyalurkan berkat-Nya. IA harus menjadi yang terbesar, dan saya yang terkecil.
Ketika pikiran saya dijernihkan oleh nur-Nya, saya segera mengucap syukur. Gelombang kesadaran memenuhi hati.
Sungguh ajaib, saya menuangkan ide tulisan menjadi lancar kembali.
Puji Tuhan.
…
Mas Redjo

