Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Azas hidup: Manusia sebagai ‘homo humanus’. Proses pemanusiaan sang manusia, sehingga dapat menjadi manusia berbudaya.
Saya pernah membaca dan mendengar aneka statemen yang berkaitan dengan sejumlah tokoh agung, yang dikategorikan sebagai ‘sang humanis’ sejati.
Sejauh yang saya masih ingat, mereka antara lain: Mahatma Ghandi, Bunda Theresa, dan Yesus Kristus. Tentu, masih ada juga tokoh-tokoh yang lain.
Mengapa mereka dianggap sebagai humanis sejati? Apa keistimewaan lewat sepak terjang, dari cara hidup mereka? Apa medan pelayanan utama mereka? Apa pula ucapan atau semboyan hidup unik mereka, hingga dunia pun mengategorikan mereka sebagai humanis sejati?
Saya sungguh yakin, ketiga tokoh humanis ini pun sudah dikenal dan bahkan sangat familiar di mata serta hati umat manusia mondial.
Siapa yang masih meragukan, kegigihan dan ketulusan perjuangan Mahatma Gandi, selaku pejuang kemanusiaan, menentang aneka praktik diskriminasi di bumi India; di saat melawan kolonialisme Inggris?
Bahkan, beliau pernah berujar, saya sungguh mengagumi ajaran cinta kasih Yesus Kristus lewat Sabda Bahagia. Tetapi, maaf, saya tidak akan menjadi seorang Kristen.
Ucapan ekstrem ini pun, ternyata, dilandasi oleh kekecewaannya atas perilaku para penjajah yang beragama Kristen.
Siapa pula yang mau meragukan sisi kemanusiaan dari Bunda Theresa, sebagai pejuang dan pembela kemanusiaan di India?
Sang Rasul kemanusiaan ini, sungguh tidak dapat diragukan sebagai pembela kaum miskin dan tertindas. Bahkan, di saat pemakamannya, Pemerintah India mengadakan penembakan salvo, sebagai tanda penghormatan kepada beliau.
Begitu pula di saat Yesus sebagai guru, sisi humanis-Nya pun sangat menonjol. Dia, bahkan lewat seluruh proses pengajaran selalu mengangkat konteks kemanusiaan dari para pendengar-Nya.
Bukankah Yesus Kristus dipandang sebagai sang humanis sejati, karena Dia selalu siap untuk berdiri di sisi para korban? Dia, bahkan berani melawan para petinggi bangsa, agama, pun para penjajah yang menindas kemanusiaan?
Jika dicermati lewat seluruh proses dan cara hidup serta perjuangan mereka, maka ketulusan mereka, bukanlah sekadar ‘live service’ atau bahkan cuma sebentuk ‘show off’ belaka.
Sang humanis sejati, tentu juga sebagai manusia sejati. Tanpa kesejatian, maka akan sia-sialah seluruh perjuangan dan sepak terjang mereka.
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.”
(Roma 12: 15)
…
Kediri, 14 November 2023

