| Red-Joss.com | Seiring berjalannya waktu, pelan tapi pasti, saya mampu memahami maksud dan makna nasihat Guru Bijak:
“Tidak ada orangtua yang ingin mencelakakan dan menjerumuskan anaknya, tapi ingin melihat anaknya hidup bahagia. Apalagi Allah yang di Surga…”
Inti dari nasihat bijak itu agar saya menjadi anak yang penurut, bukan penentang atau pemberontak!
Hal yang sulit, bahkan amat berat, jika yang dikatakan orangtua itu tidak berkenan di hati. Ketika kita melawan, menentang, dan berontak berarti kita tidak melihat makna di balik nasihat orangtua.
Sesungguhnya, ketika berontak itu hati kita menjadi sakit, terluka, dan berdarah-darah. Tapi emosi telah membutakan hati. Ego memahkotai jiwa. Karena kita mempunyai anggapan salah, bahwa orangtua yang tidak menuruti keinginan kita berarti tidak sayang. Sehingga kita jadi menderita.
Sebaliknya, dengan menyanggah, menentang, atau melawan maka spontan kita berlaku tidak hormat, bahkan melukai hati orangtua.
Alangkah bijak, kita berpikir dulu untuk menelaah makna di balik kata-kata orangtua. Jika tidak sependapat, kita sampaikan secara hati-hati agar orangtua tidak tersinggung dan sakit hati.
Sesungguhnya, yang membuat saya sadar diri untuk menjadi anak penurut pada orangtua, karena saya diingatkan firman Allah.
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4: 6)
Ketika tidak sependapat dengan orangtua, sesungguhnya kita diajak bersikap rendah hati menuruti permintaan orangtua.
Dengan menurut pada orangtua, kita membahagiakan hati mereka.
Dengan berdoa, mohon dicerahkan Allah agar kita mampu melihat makna dan hikmah kebijaksanaan orangtua.
Selalu mengedepan kerendahan hati, karena kita saling mengasihi.
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

