“Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, yang merendahkan diri akan ditinggikan.”
…
| Red-Joss.com | Kita lihat, siapa yang meninggikan diri dan siapa yang merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Orang Farisi:
Dia berdoa dalam hatinya. Isi doanya demikian:
- Tidak sama seperti semua orang.
- Bukan perampok, pezina, orang jahat atau pun pemungut cukai.
- Puasa dua kali seminggu dan membawa perpuluhan.
Semua benar dilakukannya. Dia bicara tinggi, karena kenyataannya memang posisinya tinggi.
Kita lihat isi doa pemungut cukai:
Dia berdiri jauh-jauh. Tidak berani menengadah ke langit. Sambil mukul dadanya dia berkata, “Tuhan kasihanilah aku orang berdosa ini.”
Dia memang sedang berbicara sesuai dengan kenyataannya. Seorang yang bekerja sebagai pemungut cukai dianggap sebagai seorang yang berdosa, karena mereka adalah antek-antek penjajah Romawi yang sering memeras uang rakyat.
Jadi kita sedang bertemu dengan dua orang yang sedang berbicara sesuai dengan kenyataan kehidupan mereka masing-masing.
Tetapi mengapa menghasilkan penerimaan yang sangat berbeda?
Yang satu dianggap sebagai orang benar dan yang lain tidak.
Kesalahan orang Farisi, karena merasa diri paling benar sedunia dan pada akhirnya jatuh pada kesombongan.
Ingat! Tuhan selalu mempunyai cara dalam melihat dan menilai hidup seseorang.
Tuhan selalu percaya, bahwa dalam diri setiap orang ada usaha untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Juga ada keinginan yang kuat bertobat dari segala dosa yang telah dilakukan.
Itulah sebabnya, hari ini, kita diingatkan untuk melihat hidup kita masing-masing. Jika kita sungguh berdosa, maka mari kita dengan rendah hati mohon belas kasih kepada Tuhan.
Tuhan ingin kita semua menjadi pribadi yang baru, yang lebih baik. Amin.
Tuhan memberkati.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

