Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika kita telah tersesat
di sebuah jalan, maka
kita akan kembali dan
bertanya, tetapi jika kita
tersesat dalam hal kebenaran, sungguh, kita
telah meracuni pikiran
banyak orang.”
(Didaktika Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | Tidak ada hal yang lebih urgen, orisinal, serta esensial, selain daripada menegakkan suatu kebenaran. Karena kebenaran itu hal prinsip yang paling esensial dari jalan hidup ini.
Alangkah bijak, jika kita tidak pernah mencoba-coba melintasi jalan kelaliman dan kepalsuan agar kita tidak tersesat selamanya!
“Kita telah Salah Jalan” adalah hal yang pernah dilakukan oleh siapa pun, kapan, dan di mana pun. Tulisan ini, mengajak kita untuk refleksi diri agar hidup di atas dasar pondasi kebenaran.
Secara gamblang, kita dapat mengajukan sebuah pertanyaan retoris, “Apa tujuan hidup kita? Ke mana kita pergi setelah mengakhiri ziarah hidup ini?”
Sejatinya hidup ini hanya sekadar singgah untuk mampir minum. Artinya, kehidupan ini bagaikan sebabak tonil para anak ingusan, dan bersifat sementara. Jika hidup ini bersifat sementara, berarti kita kelak akan melintasi sebuah jalan sejati, yakni sebuah jalan kebenaran.
“Ego sum via, veritas, vita,” demikian sebuah titah agung dari Sang Guru Kebenaran.
Mengapa kita salah melangkah di jalan hidup ini?
Faktanya, kita mudah menerima suatu kebenaran berdasarkan atas suara mayoritas. Generasi kita, hidup hanya karena “apa kata orang banyak.” Artinya, kita hidup atas dasar suatu klarifikasi dari masyarakat arus umum.
Padahal, sejatinya kita telah terseret oleh sebuah arus zaman kebohongan dan kepalsuan. Karena suatu yang belum tentu benar, tapi kita telah menerimanya sebagai sebuah kebenaran.
Marilah kita bergegas untuk kembali dari jalan pikiran dan pandangan sesat ini, ke sebuah jalan kebenaran demi kebaikan dan keselamatan bersama.
“Berbahagialah orang yang telah melakukan kebenaran, karena mereka akan melihat Allah.”
…
Kediri, 11ย Novemberย 2023

