| Red-Joss.com | Kemarin pagi, setelah kami pulang dari gereja, ikut Misa pagi, pada jam 11.00, saya pergi menjenguk sahabat yang dipanggil Tuhan di ruang duka sebuah RS, yang lebar, rapi tetapi sangat dingin.
Beliau telah terbaring rapi dengan setelah jas dan dasi yang indah dalam peti jenasah, rumah terakhirnya di dunia. Pas, sepanjang dan selebar tubuhnya saja. Tidak kurang tidak lebih. Sendiri tidak ada yang menemani selain Salib Kristus. Dia sendiri di gerbang surga dengan berbekal salib saja.
Sambil berdoa Salam Maria, saya bertegur sapa secara rohani dengan sahabatku itu.
Kawan, karena engkau telah setia menjalani hidupmu bersama Yesus sampai akhir, masuklah dalam hidup abadi di Surga bersama-Nya. Gerbang Surga sebentar lagi dibuka untukmu.
Wajahnya begitu damai, karena ia tahu, istri dan anak-anaknya serta teman kerabatnya sangat mencintainya.
Akhirnya, kita dibukakan mata hati kita, ketika Tuhan memanggil, kita akan pergi sendiri, tidak ada yang menemani, tidak ada satu pun yang kita bawa, kecuali salib itu.
Maka, selama hidup di dunia ini, jangan pernah kita lepas salib itu. Dialah satu-satunya yang menemani sampai akhir.
Salam sehat dan tetap semangat berbagi berat.
…
Jlitheng

