| Red-Joss.com | “Boleh, asal kau sayang dan mau tanggung jawab dengan hewan piaraanmu,” kata saya pada anak tunggal saya, Ay yang kelas 3 SD itu.
“Maksud Ayah?”
“Hewan piaraan itu tidak sekadar teman bermain, tapi kau juga harus memberi makan minum, bersihin kotorannya … Jika Ay setuju, Bapak belikan. Kalau Ay tak mau merawat, hewan itu Bapak kasihkan ke orang yang sayang pada hewan,” kata saya sambil mengusap-usap kepalanya.
“Deal, ya, Pak,” Ay lalu mengajak toos. Wajahnya cerah sumringah.
Saya peluk Ay. Tiba-tiba saya ingat wejangan almarhum Bapak.
Sesungguhnya hewan piaraan itu juga bagian dari anggota keluarga. Jika menyayangi hewan itu, kita pun harus bertanggung jawab untuk mengobatinya, ketika sakit.
Bapak memang streng pada kami, tapi tujuannya mendidik dan baik. Mengajari kami agar bertanggung jawab pada barang yang dimiliki.
Jika kami ingin membeli mainan atau barang, misalnya. Kami diminta menabung dulu. Ibu atau Bapak lalu menambahi, jika uang kami kurang. Tujuannya agar kami merasa memilki dan bertanggung jawab terhadap barang yang dipunyai agar tidak sembrono menggunakannya, sehingga awet.
Padahal makna dan maksud yang ditanamkan ke dalam hati kami adalah, agar kami jangan menyia-nyiakan hidup yang dianugerahkan Allah kepada kami. Karena sesungguhnya itulah tujuan dari peziarahan hidup ini.
Dengan mengelola talenta dan bakat yang dianugerahi Allah agar kami memaknai hidup sejati.
Sesungguhnya Allah menyediakan segala kebutuhan kita di bumi ini untuk diolah dengan bijaksana demi kesejahteraan hidup umat manusia.
Sesungguhnya hidup ini tidak untuk menjadi yang terhebat, terkemuka, atau tersukses. Tapi hidup ini untuk berkolaborasi demi kebaikan dan kebahagiaan bersama.
Hidup untuk saling mengasihi, itulah sesungguhnya nilai dan makna dari pertanggungjawaban cinta kita kepada Allah.
Berkah Dalem
…
Mas Redjo

