Red=Joss.com – Siapa disebut benalu alias parasit itu sebenarnya tidak harus reaktif, tersinggung, lalu sewot. Karena amarah itu membuat wajah kita makin tua dan jelek.
Cobalah untuk belajar kendalikan diri dan jaga emosi.
Sekiranya setiap omongan orang itu ditanggapi, hidup kita bakal tidak tenang, tertekan, bahkan jadi stres. Dan kita bisa gila sendiri.
Apapun yang dikatakan orang tentang kita itu seharusnya sebagai bahan masukan untuk mawas diri. Dipuji, itu tidak membuat kita jadi sombong. Dihujat, itu tidak membuat kita makin jelek dan ternista. Sebaliknya, kita dapat melihat mutu pribadi orang itu
Dengan selalu mawas diri dan berpikir positif, kita terus berbenah diri agar hidup kita makin baik.
Begitu pula, saat kita dibilang sebagai benalu. Kita tersinggung, karena diibaratkan benalu yang menumpang makan pada pohon (orang) lain?
Jadi…. Hal itu fakta atau hoax ?
Coba direnungkan, lalu kita cari jalan elegan untuk ubah persepsi itu agar hidup kita bertumbuh dan berkualitas.
Apakah kita sadar sesadarnya dan memahami, bahwa semua ciptaan Allah itu baik adanya, bahkan termasuk benalu alias parasit itu.
Adakah pohon yang ditumpangi parasit itu juga memprotes?
Seharusnya, jika juga belajar dari pohon yang ditumpangi parasit itu. Hidup untuk memberi, dan ikhlas.
Parasit yang menumpang makan dari pohon lain itu juga bermanfaat bagi makhluk lain, termasuk untuk kesehatan manusia.
Hal itu telah dibuktikan oleh Sucipto Hariyanto yang Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR). Menurut penelitiannya, ada beberapa jenis dari kelompok tanaman benalu yang bermanfaat sebagai tanaman obat. Misalnya, benalu teh (Scurrula oortiana) yang telah diajukan sebagai fitofarmaka antikanker dan anti malaria.
Faktanya, parasit itu berbeda dengan kita. Parasit yang menumpang pada pohon saja berguna untuk makhluk lain, apalagi kita yang dikaruniai akal dan budi.
Sekiranya kita berani menampung orang lain, semestinya kita juga berani memanusiawikan mereka. Kita membekali mereka dengan ilmu, mengubah pola pikir, dan seterusnya agar mereka juga bermanfaat bagi sesama.
Jadi, jujur saja. Sejatinya, kita ini sebagai benalu, karena hidup kita sepenuhnya bergantung pada Allah Yang Sumber Kehidupan. Semua kebutuhan kita telah disediakan oleh-Nya agar kita mengolah bumi dan merawatnya demi kebahagiaan semua makhluk ciptaan-Nya.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

