| Red-Joss.com | Ketika pernikahan anakku berada di ujung tanduk, saya disentakkan oleh nasihat bijak St Ambrosius kepada St Monika yang tidak jemu berdoa untuk anaknya, Agustinus yang nakal itu agar sadar, dan insyaf.
“Anak yang didoakan Ibunya dengan air mata tidak akan pernah dibiarkan hilang oleh Allah.”
Berdoa dan berserah ikhlas, itulah yang saya lakukan untuk berusaha taat dan setia pada kehendak Allah. Karena hanya Allah yang mampu mengubah hati.
“Sudah kau pikir dan renungkan dengan seksama?” tanya saya mencoba mengingatkan K. “Kau jangan sampai dikalahkan oleh egomu…”
“Bagaimana lagi, Bu…”
“Sejak semula Ibu mengingatkan, jika kau mulai serius seorang gadis, perhatikan bobot bibit bebetnya. Jangan nuruti seneng. Menyesal belakangan itu tiada guna. Kau sudah memutuskan, berarti kau harus komitmen, konsisten, dan bertanggung jawab.”
“Ibu senang saya menderita?”
“Tidak ada seorang Ibu yang ingin melihat anaknya menderita. Orang yang menderita itu, karena egois. Coba kau berpikir jernih, mengalah, dan sabar. Jangan menuruti emosi, tapi kau depankan hati untuk saling mengasihi,” kata saya lembut, lalu memegang bahu K. “Kau harus tegar seperti Bapakmu…”
Jujur, sejak semula saya kurang sreg dengan gadis pilihan K yang materialistis itu. Orangtuanya cerai. Saya tidak mau K mengalami nasib buruk, bercerai seperti orangtuanya. Tapi suaminya menenangkan hati tentang pilihan dan keputusan K.
“Jika memaksa, biarkan K belajar. Ia sudah dewasa, bisa memilih dan memilah. Percayalah, Allah sedang menyiapkan yang baik untuknya.”
Kenyataannya itu terbukti. Karena istri K banyak menuntut. Pernikahan mereka belum seumur jagung, tapi sering cekcok.
“Biarkan mereka belajar saling mengenal,” jawab suami enteng, ketika saya lapori rumah tangga K. Ia tidak khawatir, atau merasa terbebani dengan masalah itu.
Kepercayaan diri suami itu membuat hati saya berangsur-angsur tenang kembali. Suami percaya, bahwa K bakal mampu melewati riak kecil rumah tangganya.
Sesungguhnya, ketakutan, was-was, kekhawatiran, dan hal negatif lainnya itu datang, karena diteror oleh pikiran sendiri. Hal yang belum pasti terjadi. Tapi peneguhan sikap suami itu membuat hati saya jadi tenang. Suami selalu jeli dan hati-hati dalam menyikapi setiap permasalah dengan bijak.
“Mohonlah penyertaan Allah dengan penuh iman, harapan, dan kasih. Karena IA selalu memberi kita yang terbaik,” tegas suami optimis, tanpa keraguan di hati.
Peneguhan suami, lalu nasihat bijak St Ambrosius kepada St Monika itu makin memantapkan saya untuk berdoa dan berserah ikhlas kepada Allah.
Selalu percaya dan beriman agar kita tidak kehilangan harapan. Karena bagi Allah itu tidak ada yang mustahil.
“Anak yang didoakan Ibunya dengan air mata tidak akan pernah dibiarkan hilang oleh Allah.”
Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.
…
Mas Redjo

