Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Jika tubuh jasmanimu dapat dianalogikan dengan sebuah rumah, maka bola matamu adalah sepasang jendela rumah tubuh jasmanimu.
Saya memaknakan, bahwa sepasang bola mata manusia itu laksana dunia mikro dari jendela rumahmu yang bagaikan dunia makro.
Ada sejumlah idiom atau kiasan berkaitan dengan kata โjendelaโ.
Ada jendela nurani, jendela kehidupan, jendela kesadaran,
serta jendela impian.
Sesungguhnya, apa makna jendela dan apa itu jendela dunia?
Jendela adalah sarana vital di dalam sebuah rumah, tempat kita memandang ke luar dan dapat menghiruf udara segar.
Apa yang akan kita saksikan dan rasakan, di saat memandang ke luar melalui sebuah jendela rumah?
Tentu, kita akan segera merasakan suasana kesejukan, karena udara dapat ke luar dan masuk sambil menerpa tubuh jasmani ini. Juga tentu, ada hal yang lebih dasyat, bahwa lewat sekeping daun jendela, kita dapat memandang seluruh realitas di luar rumah dengan bebas tanpa sekatan,
hingga ke jarak yang sangat jauh.
Dengan merasakan, melihat, dan memahami seluruh realitas itu, maka sesungguhnya, yang terjadi adalah kita sedang belajar, berpikir, merasakan, menilai, menimba, merekam lewat ingatan, dan bahkan hingga mampu menyimpulkannya.
Maka, di saat itulah, sesungguhnya, telah terjadi sebuah proses belajar untuk dan tentang hidup dan kehidupan.
Mengapa kini terjadi banyak peristiwa khaos di atas bumi kita? Mengapa ada pihak yang sangat mudah tersinggung dan bahkan hingga terprovokasi? Mengapa manusia justru menjadi kian picik serta emosional dan mudah terpancing emosinya?
Karena sang manusia telah salah melihat, keliru menilai, dan sempit wawasannya. Baginya, hidup ini seolah-olah terbungkus di dalam sebuah kardus kepicikan, kemunafikan.
Sejatinya, justru karena orang belum mampu melihat, memahami, dan menghayati seluruh realitas ini dengan benar.
Lewat sekeping daun jendela nurani yang bersih nan bening, kita akan mampu memandang sebuah kebenaran!
Kunci dari semuanya itu adalah ‘keterbukaan nurani, keluasan dan kelapangan dada untuk mampu melihat perbedaan, serta kedewasaan di dalam berpikir dan berimanโ.
Bukankah sosok pribadi yang sungguh matang dan dewasa beriman, akan menjadi pribadi yang kian santun, lembut serta tulus; dan bahkan tidak sudi mengklaim tentang seluruh kebenaran ini sebagai milik pribadinya?
“Belajarlah daripada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati,” kata Sang Guru Agung kita.
…
Kediri, 5 November 2023

