Simply da Flores
…
1.
Purnama Dibasuh Air Mata
Wajah purnama merah padam
Ketika kujumpa di kaki bukit
setelah senja pergi dirangkul samudra
Cerita musim pancaroba politik
merebak di dusun terpencil dan kampung udik
hingga ke desa dan kota metropolitan
Air mata derita duka lara
membasuh pesona wajah purnama
Asap dan bara kebencian membakar
Banjir informasi saling menjelekkan
Longsor tembok nafsu kekuasan
Badai topan hasutan asing bergelora
Angin puting beliung saling mencaci-maki
Sampah dan polusi kerakusan merebak
Indahnya purnama suram kelam
Awan hitam mencengkram ganas
Wajah langit dibungkam diam
Purnama merana berkelana nestapa
antara sanubari jiwa dan hati nurani
antara pikiran dan selera
antara raga dan debu tanya
antara bintang dan damba harapan
2
Kereta Mengejar Purnama
Tinggalkan desa menuju kota
membawa harapan akan perubahan
memikul rindu menggapai rezeki
Karena
semua sumber keputusan ada di kota
Karena semua kebijakan publik ada di metropolitan
Karena perputaran uang dari kota
Dan
kereta membawaku ke pusat kota
Ketika di kampung lintasi bukit gersang
maka di kota lintasi gedung dan tembok
Saat di dusun udik lewati hutan terbakar
dan di perkotaan hamparan rumah pemukiman modern
juga pabrik dan beton jalanan
Waktu malam di desa gelap gulita
di sini penuh lampu berkilau
Kereta membawa aku berkelana
lintasi kota dan pemukiman
dari Surabaya ke Jakarta
Keretaku laju mengejar purnama
Tinggalkan senja menyusuri malam
Namun
purnama samar dari pandangan
karena dihalau gemerlap lampu
dan bola mata tak mampu menyibak
Meraih harapan dan melerai kenyataan
Ternyata
aku tak berdaya dalam kereta
untuk menikmati keindahan purnama
Karena
sistem alam semesta
tak bisa kupaksa mengikuti sistem transportasi
Mungkin
dalam sistem politik dan ekonomi
juga seperti kereta dan purnama
Aku tersenyum malu
ketika kereta tiba di Jakarta
dan purnama pun tak nampak
3.
Purnama di Metropolitan
Lenggang lenggok Jakarta
bisa membuat orang bingung
Beraneka warna siang dan malam
mempesona rasa dan selera
membius nalar dan nurani
membutakan sanubariku jiwa insani
Jika tak bisa kendalikan pribadi
Kucari purnama malam ini
di antara puncak Monas dan gedung pencakar langit
Ternyata
Purnama telah hilang lenyap
dari angkasa gulita metropolitan
yang punya sejuta pesona
yang tampilkan indah gemerlap milenial
yang sajikan sejuta nikmat selera
Polusi udara, air dan laut
sampah plastik dan limbah kimia
telah menjadi purnama metropolitan
Dan
aku harus belajar dari pemulung.
untuk temukan serpihan harapan
di antara tumpukan ladang sampah
atau comberan got bau tengik
Karena
untuk masuk di gedung bertingkat
untuk duduk di ruang dingin ber-AC
untuk bertemu kaum berdasi dan berduit
untuk menjumpai para pejabat
Tak perlu purnama di metropolitan
Aku harus tahu dan terampil Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
serta bisa kuasai sarana digital milenial
Bahkan harus menjadi hacker
Yang penting duit dan kuasa
bukan pesona indah purnama
Ini Metropolitan dan hukum zaman digital milenial
bukan seleraku yang kampungan dan tradisional
…

