| Red-Joss.com | Wong cilik itu tidak takut kalah, sebab wong cilik sudah kalah terus, atau diposisikan kalah atau harus mengalah.
Tapi sambil bekerja mencari nafkah, supaya ‘survived’ dengan bermartabat, menjalani hidup bakti, agar hidup luhur di hari nanti. “Urip prasojo ora neko-neko, netepi wajibe abdi.”
Kecuali mereka yang tidak kuat godaan, mengorbankan harga diri, rela menjual martabat untuk mendapat martabat baru yang hanya semu, agar sekadar dapat bergabung dalam barisan mereka yang terpandang di mata dunia.
“Percaya pada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3: 5-6).
Tetaplah memilih jadi ‘wong cilik’ di mata Tuhan.
Saat keadaan sekelilingmu
ada di luar kemampuanmu
diam dirilah mencari-Nya
doa mengubah segala sesuatu.
Saat kenyataan di depanmu
mengecewakan perasaanmu
tutuplah mata carilah Dia
Sebab doa mengubah segalanya
Doa orang benar bila didoakan
dengan yakin, besar kuasanya
dan tiap doa yang lahir dari iman
berkuasa menyelamatkan.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

