| Red-Joss.com | Bersama bergulirnya sang waktu dan pertumbuhan iman, saya lalu memahami. Ketika pergi ke makam untuk nyekar, kita tidak mohon didoakan pada arwah orang itu, tapi kita yang mendoakan agar dosanya diampuni Allah, dan hidup bahagia di surga.
Dulu saya berdoa, jika ingat atau butuh, bahkan nyaris tanpa berdoa. Baik berdoa pagi untuk mengawali hari, melakukan aktivitas, maupun berdoa malam untuk menutup hari.
Kini saya berdoa atau sembayang tidak lagi sebagai kewajiban, tapi kebutuhan. Saya sadar diri, bahwa anugerah dan penyertaan Allah dalam hidup ini sungguh luar biasa.
Sesungguhnya, hidup adalah nafas doa. Tanpa berdoa, hidup ini tiada arah, tujuan yang jelas, dan sia-sia.
Sesungguhnya, jika hidup dinafasi doa dijamin hasilnya luar biasa. Kita berdoa sebagai sumber kekuatan untuk diwujudnyatakan dalam hidup keseharian.
Nafas doa itu terarah dan jelas. Kita tidak bakal salah jalan atau arah tujuan. Karena seluruh aktivitas yang didasari doa berarti Allah hadir dan menyertai kita. Hasilnya pun dilimpahi sukacita.
Hidup yang dinafasi doa membuat kita menjadi tenang, tentram, damai, dan bahagia.
Sedang doa yang diaktualisasikan dalam perbuatan nyata membuat hidup makin bermakna. Tidak hanya berpengaruh pada orang lain, tapi juga memotivasi dan menginspirasi mereka untuk berubah, dan hidup berkenan bagi Allah.
Selalu mengasihi, mendoakan, dan memberkati adalah inti hidup iman kristiani.
Dengan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri.
Dengan mendoakan sesama berarti kita juga mendoakan diri sendiri.
Dengan memberkati sesama, karena kita adalah saluran berkat Allah yang murah hati.
Terpujilah Allah untuk selama-lamanya. Amin.
…
Mas Redjo

