“Apa pun penyakitnya, jika ingin cepat sembuh, hendaknya lebih dulu kita berdamai dengan diri sendiri.”
…
| Red-Joss.com | Anjuran Guru Bijak yang maknanya dalam itu, saya sampaikan kepada seorang sahabat yang penyakitnya tidak kunjung sembuh, meskipun ia telah berobat ke banyak dokter.
“Saya harus berikhtiar, pengobatan alternatif itu pilihan terakhir, karena saya ingin sembuh…,” suara SG lirih, nyaris tidak terdengar.
Saya diam, tidak percaya, ketika ia mengucapkan hal itu. Ia kurang percaya diri, bahkan tampak putus asa. Padahal SG telah beberapa kali menjalani operasi, tapi lukanya itu tidak kunjung kering, bahkan sering mengeluarkan cairan yang berbau.
Sebagai sahabat, saya minta SG agar menuruti saran dokter untuk diet mengurangi makan. Karena ia obesitas. Tapi anjuran dokter itu tidak digubrisnya.
Ketika stres, SG tidak bisa menahan lapar. Jika diingatkan istri, ia marah.
Ketimbang pindah ke pengobatan alternatif, saya lalu mengajak SG pergi ke Guru Bijak agar hati SG dicerahkan.
SG bertumbuh dari keluarga yang tidak harmonis. Orangtuanya pisah, kakaknya OD, dan istri yang telah dinikahi puluhan tahun itu belum dikaruniai anak. Ia bekerja seperti sia-sia, hidupnya hampa, dan tidak berarti.
SG dijerat oleh masa lalunya yang kelam dan pedih menyakitkan. Ia harus disembuhkan untuk berdamai dengan diri sendiri, memaafkan orangtua, dan melupakan himpitan masa lalunya.
Faktor sakit SG yang tidak kunjung sembuh, karena ia stres dan beban masa lalu. Hati SG harus diobati dan disembuhkan terlebih dulu agar menjadi tenang dan tentram.
Semangat SG harus dipulihkan. Ia harus didampingi, dikuatkan, dan dimotivasi.
Karena penyakit yang tidak kunjung sembuh dan istri yang belum dikaruniai anak itu membuat SG menjauhi Tuhan yang seperti tidak peduli dengan dirinya lagi. Padahal, semestinya SG makin mendekat, sujud, dan berserah ikhlas pada-Nya. Ia tengah diuji agar makin dewasa dalam iman dan mandiri. Ia harus percaya, bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik.
Kini, tugas utama saya sebagai sahabat adalah mengembalikan kepercayaan diri SG. Jika ingin sembuh dari sakit, SG harus mengikuti petunjuk dokter, dan tidak semaunya sendiri.
Bukankah penyakit di dunia ini telah disediakan obat penawarnya oleh Allah, Sang Pencipta?
Saya seperti diingatkan oleh Tuhan. Bisa jadi penyakit SG yang tidak kunjung sembuh, karena ia menjauh dan melupakan Yesus, Sang Tabib Agung.
SG stres dan tidak bisa melupakan masa lalu. Padahal hati yang riang itu obat yang manjur (Amsal 17: 22).
“Sesungguhnya, apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak” (Yohanes 14: 13)
Maka kata Yesus pada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” (Markus 5: 34)
Saya akan selalu mendampingi SG dan berdoa untuk kesembuhannya. Semoga ia juga segera dikaruniai seorang anak.
Berkah Dalem Gusti.
…
Mas Redjo

