Red-Joss.com – “Bawalah cermin ke manapun pergi agar kita dapat melihat wajah sendiri.”
Cobalah bercermin dan lihat wajah sendiri, ketika kita nyinyir. Apa yang kita lihat?
Wajah kita jelek, itu pasti! Sekiranya ada orang memuji, nyinyir itu membuat wajah kita jadi cantik atau ganteng, berarti ia bohong. Ada udang di balik batu alias tukang merayu.
Anehnya banyak orang hobi nyinyir. Lebih aneh lagi, karena orang yang senang nyinyir dengan komentar pedas dan menyakiti hati di medsos itu banyak penggemarnya. Bahkan dipuja, dielukan, disanjung, dan dihormati bak raja kecil.
Lalu, di mana dan apa yang salah?
Sebenarnya, orang yang hobi nyinyir itu hidupnya tidak bahagia, bahkan menderita. Bisa jadi (maaf) sarafnya korslet. Lho?
Bagaimana tidak aneh. Orang yang jujur itu dibenci, karena tidak memberi peluang dan tidak mau diajak korupsi. Orang yang bekerja keras demi kemajuan bangsa dan negara itu malah dimusuhi, dihujat, bahkan difitnah. Karena, ternyata kita tidak sanggup melakukannya sendiri. Orang baik dan rendah hati itu dianggap pencitraan, sekadar kamuflase, dan seterusnya.
Pertanyaannya, jika dengan orang lain kita selalu nyinyir, iri, dan memusuhi, bagaimana perilaku kita terhadap keluarga sendiri?
Tidak ada gunanya, kita menipu diri sendiri dan berkamuflase agar keluarga kita tampak harmonis, padahal hidup menderita.
Saatnya, ke manapun pergi, kita membawa cermin untuk berkaca diri agar kita selalu sadar diri.
Hobi nyinyir itu membuat bibir kita jadi nyonyor, karena perilaku buruk.
Berbeda dengan pribadi yang ramah dan murah senyum. Wajahnya selalu cerah berseri. Karena kebahagiaan itu memancar dari kejernihan hati.
Hobi nyinyir itu datangnya dari yang jahat, tapi orang yang murah hati itu anugerah Ilahi.
,,,
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

