| Red-Joss.com | Sesungguhnya yang ada di dalam hati ini hanya ada aku dan dia yang tahu. Hanya aku yang merasakan, mengalami, dan bergumul untuk memaknai peziarahan hidup ini.
Sesungguhnya ada banyak sekali peristiwa yang dirasakan di dalam hati ini. Ada kisah yang sama antara yang di dalam dan yang diucapkan maupun diceritakannya.
Tapi juga ada banyak hal yang di dalam dan tidak sama dengan yang diucapkan maupun diceritakan.
Ketika hati ini diberi kesempatan untuk curhat, dia mengungkap semua yang sedang terjadi.
Ternyata dia kecewa dengan tingkah lakuku yang kadang tidak mengikuti suara hatinya. Tutur-kataku tidak mengikuti saran dan pertimbangannya. Dia kecewa, karena jarang sekali diajak bicara, dan sering dikalahkan dengan pikiranku.
Padahal banyak hal yang hendak diungkapkannya padaku. Misalnya, kegelisahan, ketakutan, kesepian, kekecewaan, luka-luka, dendam, iri hati, dan banyak lagi.
Aku diam mendengarkan curhatan hati ini, sampai aku tahu betul yang dia maui dan diharapkannya.
Ternyata dia ingin dihargai agar aku bicara dulu dengannya sebelum aku berkata-berucap, bertindak, dan berperilaku.
Aku diminta sesering mungkin berkomunikasi dengannya untuk satu suara antara yang dirasa dan diungkapkan. Karena, jika berbeda berarti tidak jujur alias bohong.
Aku juga diminta untuk menyatukan dan mengkoordinasi: panca indra, pikiran, hati, jiwa, dan roh supaya tidak jalan sendiri-sendiri sehingga melelahkan dan membingungkan. Tapi memberi tanggung-jawab akal budi untuk mengatur dan memutuskan waktunya.
Alangkah bahagia, ketika aku bisa mendengarkan curhatan suara hati ini. Sungguh, aku ingin belajar jujur, untuk menyamakan yang ada di dalam dan yang terucap. Sebab, aku yakin, yang penting dalam hidup ini adalah bagaimana aku menjadi pribadi yang bertanggung-jawab dengan diriku ini kepada Tuhan, Sang Pencipta.
Jangan membuat kecewa Tuhan, seperti pernah disampaikan dalam Injil, yaitu digambarkan tentang seorang hamba yang jahat. Dia bukan seorang pengampun, tapi dia seorang yang jahat dan serakah, padahal dia sudah diampuni. Hatinya tidak berubah menjadi seorang pengampun. Mungkin dia terlalu buru-buru dan tidak duduk diam untuk mendengarkan curhatan hatinya yang senang, karena diampuni Tuhan. Jika dia mau mendengarkan suara hatinya, aku yakin sikapnya akan berubah.
Yuk, kita dengarkan curhatan hati sendiri, sebelum beraktivitas dan berjumpa dengan siapa pun.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

