| Red-Joss.com | Berani memanggul salib adalah cara saya memaknai ujud doa agar Allah mewujudkannya.
Sikap penyerahan diri, karena Allah murah hati.
Ketika saya mempunyai intensi doa yang kuat, saya menjalani hidup doa itu dengan sikap laku prihatin agar Allah berkenan mengabulkan doa saya.
Mendidik laku prihatin yang berat. Tujuannya dengan menambah beban tantangan itu untuk kebaikan diri sendiri.
Sikap laku prihatin itu meliputi:
- Mendisiplinkan jam doa. Misalnya, menambah jam doa. Mendaraskan doa setiap 6 jam sekali. Diawali pukul 6 pagi, 12 siang, 18 sore, dan pukul 24 atau tengah malam.
- Berpuasa. Selama menjalani laku doa itu kita dapat melakukannya sambil berpuasa. Misalnya, setiap Rabu (Abu) dan Jumat (jalan salib). Bisa juga kita mengurangi makan dan minum atau mengurangi jam tidur, hingga doa-doa kita dikabulkan Allah.
- Berdevosi sebagai ungkapan cinta dan bakti kita kepada Allah. Kita berdoa dengan perantara Yesus, Bunda Maria, St Yusuf, atau Para Kudus yang lain.
- Amal kasih sebagai ujud semangat pengorbanan. Kita membangun semangat empati, peduli, berbela rasa dan berbagi pada sesama. Kita berbagi dengan yang kita punyai: pikiran, tenaga, perilaku, waktu, atau materi.
Selalu semangat untuk mewujudkan doa dengan bekerja. Menghidupi harapan dengan iman. Kita berserah pada kehendak Allah, karena IA selalu memberikan yang terbaik.
Gusti paring berkah.
…
Mas Redjo

