Red-Joss.com – Lho? Mana ada sih orangtua yang tega meracuni jiwa anak sendiri dengan kebencian?”
Maaf, bukan tega atau tidak tega. Melainkan, disadari atau tidak, kita tidak ngeh, bahkan sering kali meracuni jiwa anak sendiri lewat kata-kata, dan bisa juga lewat perilaku kita yang buruk.
Tidak perlu bengong, berkerut kening, apalagi untuk menyanggah. Lebih baik kita berani mengakui, terus terang, dan lebih berhati-hati jika bicara di depan anak agar kita tidak menuangkan racun kebencian itu ke dalam pikiran anak, dan ditirunya.
Cobalah untuk disadari, diketahui, dan dipahami.
Apakah kita begitu saja melupakan kisah anak yang didoktrin dengan kebencian dan hal yang tidak benar di sekolah? Bahkan kebencian itu telah menyebar ke berbagai sektor kehidupan, sehingga sulit dicabut hingga ke akarnya. Seharusnya, kita belajar dari kenyataan pahit itu, untuk waspada dan mengantisipasinya.
Begitu pula halnya, ketika kita ngobrol terbuka dan apa adanya dengan pasangan atau orang lain di depan anak-anak. Hal-hal yang buruk, kebencian, atau aib orang lain itu bakal terekam dalam pikiran anak. Lebih suloyo dan malu, jika anak kita yang polos itu meniru atau membicarakan hal yang buruk itu di luaran.
Saatnya, kita belajar mengontrol diri dan berhati-hati dalam bicara, ketika ada anak berada di dekat kita. Jikapun ada masalah penting atau perselisihan dalam keluarga, lebih baik bicara empat mata, atau tanpa didengar dan dilihat oleh anak. Kita harus pandai memilah, mana yang harus disampaikan ke anak, dan mana yang tidak boleh.
Kita tidak boleh bersikap masa bodoh dan tidak peduli. Rekaman buruk tentang orangtua akan berdampak besar mempengaruhi kejiwaan dan masa depan anak.
Sama halnya dengan lingkungan pergaulan dan teman bermain anak itu yang mesti diawasi dan difilter agar anak tidak uculan, sakarepe dewe, alias susah diatur dan mau menang sendiri. Karena anak adalah cermin dari orangtua. Dan, jangan gara-gara perbuatan anak, orangtua jadi malu. Anak polah bapa kepradah.
Menjadi orangtua yang baik itu tidak mudah. Kita bertanggung jawab penuh terhadap tumbuh kembang anak, pendidikan, dan masa depannya.
Saatnya, kita membangun dasar budaya peduli, empati, tertib, dan hormat anak kepada orang lain, khususnya orangtua. Sehingga anak memiliki pribadi baik, ramah, senang menolong, disiplin, dan tertib.
Dengan membiasakan diri dan mendisiplinkan sikap di atas, semoga kelak anak kita dapat menjaga nama baik, martabat dan kehormatan orangtua.
Bukankah sifat anak cerminan dari orangtuanya?
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

