| Red-Joss.com | Saatnya saya harus ke luar dari diri sendiri. Saya harus ikhlas memberi kesempatan itu kepada yang lain.
Jujur, tiba-tiba saya malu hati dan salah tingkah, ketika membicarakan diri sendiri, dan jadi pusat perhatian bagai magnit.
Saatnya berubah untuk perbaiki sikap dan perilaku. Tapi saya tidak mau menggunakan topeng alias sekadar berkamuflase. Saya harus berani menjadi diri sendiri.
Saya mohon maaf pada siapa pun, jika melihat saya berubah jadi pendiam dan tidak banyak bicara, supaya tidak kaget, apalagi jadi penasaran.
Ternyata, untuk berubah perbaiki diri itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Saya sungguh merasa sulit, bahkan tersiksa saat mengurangi bicara. Mulut ini serasa sudah dol, ndower, ngecipris (cerewet), dan tidak mau berhenti untuk didului orang lain.
Berbagai cara saya lakukan, seperti pura-pura menyentuh bibir dengan telunjuk, menarik nafas panjang, atau mengggigit bibir sendiri. Tujuannya agar saya mendidik mulut sendiri agar tidak banyak bicara.
Karena usaha mengurangi bicara itu sering gagal, saya pernah mau menjahit mulut ini lalu memakai masker. Saya juga mengurangi kumpul-kumpul, menjauhi hp, dan nitip pesan ke karyawan. Jika ada telepon tidak penting, supaya diserahkan kepada yang lain.
Begitu pula di rumah, saya minta istri dan anak-anak mengurangi bicara dengan saya, jika tidak penting. Bahkan saya banyak berdiam diri di kamar, karena saya ingin berubah. Saya lalu belajar mengenali diri sendiri dengan membaca buku-buku rohani.
Astaga! Saya terkesiap. Kesadaran saya seperti dipagut ular, ketika membaca Alkitab yang tertulis:
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya (Kolose 3: 23-25).
Intinya, apa pun yang hendak kita lakukan itu orientasinya kepada Tuhan, tidak untuk diri sendiri. Hidup itu sesungguhnya untuk memberi dan berbagi. Karena kita telah diberi Allah secara cuma-cuma.
Tantangan yang teramat sulit dan berat. Mulai saat ini saya harus berjuang untuk ke luar dari diri sendiri. Pikiran, perkataan, dan perilaku saya harus didasari kasih, seperti yang diteladankan oleh Kristus.
Dari kedalaman hati saya mohon doa dan dukungan semua sahabat agar saya mampu mendidik diri sendiri. Hidup untuk mengasihi sesama, seperti mengasihi diri sendiri.
Berkah Dalem.
…
Mas Redjo

