Red-Joss.com – Teman saya sangat memuja Prabowo. Entah mengapa. Tapi sepertinya ia termakan oleh gosip mengenai Joko Widodo yang konon anak PKI dan anti Islam.
Itu sebabnya ketika Prabowo mencalonkan diri menjadi presiden melawan Jokowi, teman itu mendukung Prabowo.
Saat pemilihan, Prabowo kalah. Ia menjadi sangat benci dengan Jokowi, bahkan siapapun yang mendukung Jokowi termasuk isterinya. Setiap hal yang berkaitan dengan Jokowi, ia marah-marah tak menentu. Ia jadi pemarah.
“Orang yang mudah marah itu menunjukkan pribadinya lemah. Yang mampu kendalikan diri menunjukkan kematangan pribadi.” red-joss
Coba bertanya pada diri sendiri. Mengapa dan untuk apa marah?
Tidak ada gunanya kita mencari pembenaran diri, karena apapun hasilnya kita semua yang rugi, dan sakit hati.
Lebih parah lagi, karena emosi dan merasa benar sendiri, hubungan persahabatan itu merenggang, bubar, atau jadi saling membenci alias bermusuhan. “Kalah menang jadi abu,” itu suloyo dan menyedihkan.
Sebenarnya orang yang mudah marah itu tengah bermasalah dengan diri sendiri, dan jiwanya rapuh.
Bisa jadi, kerapuhan itu, karena masalah yang tidak teratasi, sehingga membebani jiwa. Hidup pun terasa sumpek dan ngap. Kita tidak mampu berpikir jernih, emosi mudah meledak, dan cepat lelah.
Jauh lebih baik dan terhormat, ketika teman yang marah itu tidak ditanggapi dan diladeni. Biarkan emosinya mereda dulu, lalu kita bertanya secara baik-baik, tanpa tendensi untuk menghakimi, tapi memahaminya.
Begitu pula, dengan teman yang berbuat salah dan menjengkelkan itu tidak harus direspon dengan emosi. Lebih baik bicara empat mata, dari hati ke hati untuk mencari jalan penyelesaiannya.
Amarah itu tidak menyelesaikan masalah, tapi makin perkeruh hubungan persaudaraan. Orang yang marah itu akan dihukum oleh penyesalannya. Tapi orang yang rendah hati berani berdamai dengan diri sendiri agar hidupnya berlimpah kasih Allah.
Semoga semua orang saling mengasihi, dan hidup damai sejahtera.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

