| Red-Joss.com | Ketika ditanya hal itu oleh Yesus, kita tidak harus terburu-buru untuk segera menjawabnya. Alangkah bijak, jika hal itu direnungkan di kedalaman hati.
Jujur, saya terlalu lamban untuk mengenal dekat Yesus. Saya percaya dan mengimaninya, tapi kurang menghidupi dalam hidup keseharian.
Sungguh jalan panjang untuk bisa menjadi dekat dan akrab dengan Yesus!
Pengalaman iman saat dijamah Yesus sering kali tidak kita pahami. Kita beranggapan yang terjadi di dunia ini secara kebetulan, atau karena kemampuan sendiri yang merasa sok hebat.
Saya sungguh dijamah Yesus dan hal itu mengubah jalan hidup saya, ketika membaca firman-Nya: “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus” (Kolose 3:17).
Intinya, saya diajak menyangkal diri.
Caranya, kita menjaga pikiran, hati, dan mulut ini agar tidak dicemari oleh keinginan jahat. Hal yang tidak mudah, tapi harus terus dilatih dan diperjuangkan. Karena untuk sukses itu tidak ada yang instan.
Dalam menyerukan hal-hal baik, positif, dan benar itu tidak harus berkecil hati. Kendatipun kita tidak ditanggapi, diapresiasi, atau bahkan dicemooh dan dianggap sebagai pencitraan. Kita juga tidak boleh takut, sekalipun diintimidasi, karena Kabar Gembira yang kita wartakan. Allah selalu menjaga dan melindungi kita. Bahkan tidak sehelai pun dari rambut kepala kita akan hilang (Luk 21: 18).
Sesungguhnya, kita melakukan semua itu tidak untuk diri sendiri, tapi untuk kemuliaan-Nya.
Dengan menyangkal diri, kita menjauhi keakuan diri.
Dengan memanggul salib, kita ikut berperan serta dalam karya keselamatan.
Dengan mengikuti Yesus, ketika kita ditanya: “Menurutmu, siapakah Aku ini?”
Dengan percaya dan penuh iman, kita menjawab: “ Sungguh, Engkaulah Tuhan…!”
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

