| Red-Joss.com | “Dari abu akan kembali ke abu,” itulah siklus hidup raga kita. Berbeda dengan siklus jiwa yang tityannya hanya pada kebaikan-kebaikan yang sudah, sedang dan akan kita lakukan.
Tentangnya Mother Theresa mengatakan: “Kebaikan yang hari ini kamu lakukan esok lusa mungkin sudah dilupakan orang.”
Saya tidak risau, karena kebaikan yang saya lakukan pada sesama dan semesta ini terpahat abadi, diingat atau dilupakan orang.
Kebaikan-kebaikan yang pernah saya lakukan dahulu sudah lama saya kosongkan dari gudang bangga diri ini, berbarengan dengan kiriman banjir 2007 yang menenggelamkan rumah dengan isinya, termasuk aneka memory kemegahan dan keindahan masa lalu.
Langkah rohaniku semakin ringan dan nafas batinku tidak terbebani oleh tendensi untuk selalu menjaga rasa berharga yang semu. Dengan begitu akan makin banyak ruang untuk kebaikan Tuhan yang selama ini agak kurang terawat, karena fokusku lebih untuk cinta diri.
Mateus 10,39 – menulis sebuah paradoks “yang menyelamatkan justru akan kehilangan.” Prinsip apa yang hendak kita pelajari dari paradoks ini?
Utamanya, kita berani berserah penuh kepada Tuhan. Keberanian ini bersifat mutlak, dan merupakan tuntutan dari Tuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Maka kita harus berani mempersembahkan, mempertaruhkan seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Prinsip ini, bisa jadi merupakan bagian yang tidak kita sukai. Tapi ini saja ‘tityan’ jiwa yang membawa kita pada hidup abadi.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

