| Red-Joss.com | Karena saya memiliki hidup, saya berusaha untuk tidak bergantung pada orang lain, kecuali hanya pada Allah yang anugerahi hidup saya.
Seperti halnya Minggu sore ini, ketika tidak ada seorang dari anak saya yang mau mengantarkan kami ke gereja.
Ketiga anak saya, mereka sudah besar dan mempunyai kesibukan sendiri yang tidak bisa diganggu gugat. Sehingga, mereka minta maaf tidak bisa menemani kami.
Godaan lain muncul, ketika sore itu istri saya gantian meminta maaf, karena tidak bisa menemani ke gereja. Badannya meriang, sehinga minta saya untuk mengikuti misa offline. Cuaca Minggu ini memang terik sekali. Panasnya pol.
Saya menjadi bimbang. Misa offline di rumah itu tidak repot, santai, dan lebih nyaman. Tapi sayang, karena saya tidak menerima Hosti Kudus, peneguh jiwa, sumber hidup rohani, dan bahagia bersama Kristus.
Ketika saya ke luar dari halaman rumah untuk mencari gojek yang biasa mangkal di depan ****mart, seorang rekan kerja melepon. Ia hendak ke rumah saya, dan sedang otw.
“Saya barusan ditelepon, Bro, proyek kita goal. Besok kita disuruh ke kantornya,” celotehnya gembira.
“Serius?”
“Ya. Tunggu ya, jangan kabur.”
“Aku mau ke gereja,” kata saya gembira.
“Tunda aja. Mending offline,” sarannya.
Saya diam. Tergoda tawaran teman. Antara proyek kerja dan ke gereja. Saya memejamkan mata sambil menarik nafas panjang.
Saya teringat Yesus yang disalib untuk menebus dosa dan menyelamatkan umat-Nya. Teman toh bisa menunggu di rumah. Ada istri yang menemani.
Berangsur-angsur kesadaran saya makin menguat, dan hati menjadi mantap.
Saya lalu meminta maaf, supaya teman sabar menunggu di rumah. Bagi saya, ke gereja itu lebih utama dan penting, dibandingkan proyek. Yang penting proyek itu telah goal dan disetujui.
Di atas motor, saya memperoleh kemenangan. Dada saya menjadi longgar dan nyaman.
Ekaristis Kudus pemuas jiwa saya yang kering kerontang. Sekaligus peneguh jiwa hidup bahagia.
Saya mengucap syukur. Dalam nama Yesus, kuasa-Nya menjadi nyata.
…
Mas Redjo

