| Red-Joss.com | (1965) Seorang lelaki ‘nyunggi’ anaknya di pundak, sembari menggiring sejumlah kambing piaraannya ke rerumputan sebelah barat desanya.
‘Momong’ (Jawa) dalam terjemahan Bahasa Indonesia berarti mengasuh anak, sedangkan ‘angon’ adalah menggembalakan ternak untuk mencari makan. Hewan yang dimaksud bisa kambing atau itik, maka ada istilah ‘angon wedus’ dan ‘angon bebek’, juga ‘angon sapi’.
“Kapan terakhir melihat pemandangan seperti itu?”
Sangat menentramkan hati, menyeret kita ke nostalgia masa lalu. Betapa ademnya hidup dengan tenang, tidak dikejar-kejar waktu untuk suatu urusan yang membuat kehidupan itu sendiri makin tidak bisa dinikmati.
Ketika Rabo yang lalu, 18 Oktober 2023, saya hadir di kampus untuk mengawasi ujian tengah semester. Ada beberapa rekan yang tahu, kalau saya ini koordinator salah satu MatKul yang diujikan, komen: “Bapak cukup buka hape, kalau ada masalah soal ujian saya tanya lewat hape Bapak.” Ada yang lain komen: ‘part of pay’, yang lain ‘part of responsibility’.
Sambil beranjak menuju ruang kelas, saya menjawab: “Saya akan tetap seperti ini, menjalani hidup apa adanya, dan sudah sangat beruntung, jika ada dua, tiga mahasiswi atau mahasiswa yang merasa bersyukur, karena bertemu dengan saya.”
Ke-eka-an antara ‘momong’ dan ‘angon’ sama tidak terpisahkan seperti motif dan tindakan. Motif yang kita miliki (tidak nampak) itu yang menentukan mutu peran, pekerjaan, jabatan, pelayanan yang kita jalankan (nampak).
Salam sehat dan jangan menyerah untuk tetap bermakna.
…
Jlitheng

