Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
| Red-Joss.com | Seorang anak berusia sepuluh tahun, masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar (SD), sempat menuliskan sepucuk surat buat almarhumah Ibundanya.
Sepucuk surat kecil itu ternyata berisi sejumlah pengaduan kepada almarhum Ibundanya. Kebetulan surat itu dibuat sebagai tugas (PR) Bahasa Indonesia.
Apa isi surat pengaduan si kecil? Ternyata, di luar dugaan siapa pun, tentu, termasuk sang Guru di sekolah, Ayahandanya, dan tentu juga Bunda tirinya.
Ibuku,
di Surga atau di Neraka!
Saya tidak tahu, saat ini Ibu berada di Surga atau di Neraka. Tapi, saya lebih percaya, Ibu berada di Surga. Bukankah di saat saya masih sangat kecil, Ibu selalu baik kepada saya?
Ibu,
Saya sangat sedih dan merasa kehilangan Ibu. Tapi, Ibu tiriku juga baik kepadaku, koq.
Ibu,
Sebenarnya, saya tidak mau mengadu kepada Ibu, tapi di sekolahku, guruku meminta aku belajar menulis surat. Maka, anggaplah isi surat ini hanya sebuah latihan menulis, Bu.
Jadi, Ibu jangan sedih, ya.
Begini Ibu,
Walaupun sudah ada penggantimu, tapi aku masih merasa kehilanganmu. Aku juga sering takut, jika mau meminta baju baru atau sepatu baru. Aku takut dimarahi. Apalagi, Ayah pun sering pulang malam, di saat aku sudah beranjak tidur. Esok pagi, Ayah pun sudah berangkat lagi. Jadi, aku tidak tahu harus mengadu kepada siapa, Bu.
Cukup Ibu, ya, surat dari aku anakmu.
Salam hormat,
Ananda โฆ
Lalu surat kecil itu pun, diselipkannya di bawah kaki patung Bunda Maria di ruangan rekreasi keluarga.
Di suatu malam, di bulan Oktober 2023, sang Ayah tak sengaja, berniat memindahkan patung itu, karena keesokan malam akan diadakan doa Rosario di rumahnya.
Betapa terperanjat dan betapa hancur hatinya, saat membaca surat anaknya itu. “Oh, anakku, maafkan Ayahmu, karena selama ini, aku tidak pernah melihatmu bersedih atau pun berusaha. Ternyata, salah dugaanku selama ini. Maafkan Ayah, anakku.”
Malam itu, diam-diam sang Ayah mendatangi ranjang tidur anaknya, dan sambil berjongkok, dia pun membisik, “Anakku, maafkan aku, Ayahmu!”
Para saudara, ternyata surat yang ditulis oleh anak kecil itu demi memenuhi tugas di sekolahnya secara kebetulan ditemukan oleh sang Ayah saat dia memindahkan patung Bunda Maria.
Jadi, dari kisah kecil ini, sesungguhnya, bahwa apa pun dapat saja terjadi, kapan dan bilamana pun. Entah itu berupa suatu kebetulan atau pun direncanakan.
Bahwa di dalam hidup ini, segala sesuatu, apa pun dapat terjadi. Sering kali juga, dari kejadian yang tak terduga itu, orang pun dapat disadarkan dari kelalaiannya, misalnya.
Sungguh, segala sesuatu akan indah pada saatnya!
…
Kediri,ย 18ย Oktoberย 2023

