Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Karena itu, hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Surga adalah sempurna.”
(Matius 5: 48)
…
| Red-Joss.com | Sejatinya, seorang anak manusia secara nurani, sangat ingin untuk menjadi sempurna. Hal itu pun sudah menjadi bawaan alam.
Bahwa senantiasa ada suatu keinginan, kerinduan, atau sebuah hasrat, dan bahkan hingga terobsesi untuk dapat meraihnya.
Faktanya sungguh tidak mudah untuk segera menjadi sempurna. Karena banyak rintangan dan hambatan yang menghadang sang manusia.
“Setengah Hati, Setengah Mati, dan Setengah Jadi.” Adalah sebuah judul dalam majas klimaks. Artinya, jika suatu proses beraktivitas itu diawali dengan sikap setengah hati, maka akan berdampak setengah mati, dan hasil akhirnya juga setengah jadi.
Suatu proses aktivitas karya sang manusia, tentu akan berdampak prima bahkan hingga sempurna, justru jika aktivitas itu bertolak dari ketulusan dan keikhlasan hati sang anak manusia. Karena manusia adalah aktor intelektualnya. Dialah dalang yang akan bermain carur di atas seceper papan kehidupan ini.
Kita dapat membayangkan, apa dampak dan bagaimana akhirnya, jika suatu proses aktivitas, bertolak dari sikap setengah hati. Lalu, bagaimana kita harus bergolak untuk menyempurnakan sebuah proses aktivitas yang sudah mulai kolaps alias setengah mati itu. Sehingga dapat dipastikan, bahwa karya itu akan berujung setengah jadi juga.
Itulah potret riil dari sebuah proses karya yang beranjak dari sikap setengah hati. Mangkrak, ya, tentu akan mangkrak di mana-mana.
Saudara, bukankah, Sang Tuhan juga lantang bersuara, “Hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Surga.”
Semoga pepatah petitih itu mampu menyadarkan kita, bahwa segala sesuatu yang berawal dari sikap setengah hati, akan berdampak pada hasilnya yang setengah jadi pula.
Semoga, kita sebagai pendekar utamanya mau memperbaiki aktivitas itu dengan sepenuh hati dan totalitas demi hasil yang sempurna.
…
Kediri,ย 16ย Oktoberย 2023

