| Red-Joss.com | Tiba-tiba panggilan ‘Ayah’ yang ditujukan padaku itu menggedor kesadaranku. Aku amati gadis belia yang berdiri di depanku dengan sorot mata aneh itu.
Sungguh, aku tidak mengenalnya. Bahkan, bertemu dengannya juga baru kali ini. Tapi, mengapa ia minta izin dan ingin memanggilku Ayah?
Jujur, panggilan Ayah bagiku ibarat oase di musim kemarau.
Bagaimana tidak. Pernikahanku yang kedua dengan A lebih dari satu dasawarsa, tapi belum dikaruniai anak, meski telah banyak cara kami tempuh dan usahakan. Hasilnya nihil. Sehingga akhirnya kami pun berserah pasrah.
Gadis itu entah dari mana, tiba-tiba ia muncul di rumahku.
“Maaf, apa benar Bapak …,” tanya gadis itu agak gugup dan suaranya bergetar.
“Ya, Mbak siapa?” aku mengiyakan sambil memandangnya penasaran.
“Akhirnya usaha saya tidak sia-sia,” kata gadis itu seperti ditujukan pada diri sendiri. Ia tengadah sambil memejamkan mata.
Aku amati gadis itu. Entah kenapa hatiku berdebar kencang.
“Barangkali Bapak ingat dua anak kecil balita… Boleh saya memanggil Ayah…?”
Deg! Dua anak balita? Mungkinkah gadis ini anakku dengan …? Aku ingat mantan istriku dan Ayahnya yang menggelapkan surat rumah. Mereka memenangkan perwalian anak, lalu pindah entah ke mana. Sekarang salah seorang anakku muncul … dan foto di dompet yang ditunjukkan padaku itu. Aku sedang menggendong anak balita, dan anak itu ada di depanku!
Dini, ya, anak bungsuku, Dini lalu bercerita. Dini melihat akte lahir, yang ternyata berbeda dengan Ayahnya sekarang. Ketika ia menanyakan Ayah kandungnya, dijawab oleh Ibu, bahwa Ayahnya telah meninggal. Tapi entah kenapa, ia tidak percaya. Ia lalu mencari tahu lewat kerabat Ibu. Usahanya yang gigih itu berbuah manis, dan berhasil. Ia menemukan Ayah kandungnya!
Kami berpelukan. Dini menangis. Kubiarkan Dini melepas beban hatinya. Lalu kuusap lembut air matanya.
Aku lalu mengenalkan istriku dengan Dini.
“Nak, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu,” kataku, ketika Dini pamit.
“Sering-seringlah ke sini. Kasihan Ayahmu,” imbuh istriku.
Aku mengangguk. Aku menatap istriku. Aku bersyukur, karena ia memahamiku. Kemarau di hatiku telah berakhir dengan kedatangan Dini, anakku.
Aku tidak henti mengucap syukur kepada Allah.
…
Mas Redjo

