Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jadi, karena engkau suam-suam kuku, maka Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”
(Wahyu 3: 16)
…
| Red-Joss.com | Saya tahu dan juga percaya, bahwa sejatinya, tidak mudah bagi kita untuk ‘berani mengambil sebuah risiko’ di dalam hidup ini.
Berikut ini saya tampilkan dua buah adagium dari budaya bangsa kita.
(1) Bagai makan buah simalakama. Jika dimakan, Ibu mati dan, jika tidak dimakan, Ayah pun akan mati.” Apa itu buah simalakama? Di Indonesia, kita menyebutnya buah ‘mahkota dewa,’ yang di dalam bahasa ilmiahnya ‘phaleria macrokarpa’.
Ada pun makna dari ungkapan ini, bahwa kita bagai berada di dalam kondisi serba sulit, yang hanya ada dua tawaran pilihan yang serba tidak enak.
(2) Bermain air, basah. Bermain api, letup. Bermain pisau, luka.” Ungkapan ini bermakna, bahwa kita, bagaikan berada di dalam kondisi serba sulit. Karena setiap usaha, toh selalu ada untung maupun ruginya.
Apa makna sejati dari kedua adagium ini? Apa pula esensi mendasar sebagai relasi pemaknaan dengan judul tulisan, Berani Mengambil Risiko?
Ada pun makna esensial dari tulisan ini, bahwa kita perlu bersikap tegas di dalam mengambil pilihan hidup ini. Di sisi lain, selaku manusia, kita pun perlu bersikap berani untuk menerima risiko yang paling pahit sekalipun sebagai dampak langsung dari sikap pilihan kita.
Hidup ini, secara filosofis adalah sebuah pilihan. Lazimnya sebuah pilihan, maka akan berdampak positif dan negatif.
Keberanian untuk bersikap adalah indikator dari pribadi dewasa dan bertanggung jawab. Jika kita tidak berani mengambil sikap terhadap suatu pilihan, hal ini mengindikasikan, bahwa kita, bukanlah pribadi dewasa yang berani bersikap mandiri.
Bagi kita sebagai umat Kristiani, hendaklah kita berupaya agar tidak sudi berkompromi dengan cara-cara dunia, yang bersikap plin-plan, yang kenyataannya, justru menyedihkan secara rohani.
Jadi, kita mau memilih jalan yang mana?
…
Kediri, 15 Oktober 2023

