| Red-Joss.com | Pada bagian akhir pembelajaran topik ‘Reasoning’ atau penalaran di suatu perguruan tinggi swasta, saya kembali menegaskan pentingnya memiliki kualitas berpikir tinggi. Tujuannya, agar setiap tindakan kita dilandasi oleh buah pikiran yang berkualitas. Setiap keputusan yang kita ambil berkualitas. Setiap solusi pemecahan masalah yang kita tawarkan berkualitas. Setiap khotbah (kalau kelak ada yang jadi uztad atau pendeta) menjadi dan memberi inspirasi bagi orang lain . Kalau kelak menjadi pekerja tidak menjadi ‘deadwood players’. Caranya saat ini? Tidak menjadi ‘deadwood student’. Tidak menjadi anak muda yang layu sebelum berkembang alias banyak daun dan bunganya, tapi gagal jadi buah.
Seorang mahasiswa tiba-tiba nyeletuk, “Deadwood itu mirip dengan hiasan, ya, Pak?” Nampak keren, hebat, moncer, tapi tidak memberi makna atau nilai tambah bagi orang lain. “So, saya tidak ingin menjadi hiasan, Pak. Seperti Bapak. Bapak sudah tua, tapi bukan deadwood,” lanjutnya.
Saya jadi ingat Mas Inco, Kaprodi IlKom sebelumnya, sekirar lima tahun silam yang mentraktir saya makan siang di resto dekat kampus, hanya untuk mengatakan: “Kelak, kalau saya tua ingin seperti bapak. Tidak deadwood.”
Dalam dunia sepak bola dikenal istilah ‘Deadwood players’. Sebutan untuk para pemain sepakbola yang hanya menjadi pemanas bangku cadangan dan tidak pernah dimainkan. Padahal, mereka dalam kondisi fit dan tidak sedang cedera. Setiap minggu mereka tetap menerima gaji. Bahkan, beberapa pemain ‘deadwood’ ini memiliki gaji yang sangat mahal.
Dari google saya baca nama-nama seperti Bakayoko dan Drinkwater di Chelsea, dan Ozil di Arsenal sebagai contoh terbaik dari pemain sepakbola berlabel ‘deadwood’. Mereka adalah pemain bintang dan yang pernah dinilai akan jadi bintang. Diberikan gaji besar, namun berkarir menjadi pemain cadangan yang selalu dipinjamkan. Atau, hanya menerima gaji buta karena tidak pernah bermain dan hanya mengikuti latihan saja.
Descartes mengatakan: “Cogito Ergo Sum.” Dengan terus berkualitas dalam berpikir, juga, ketika usia terus menua, eksistensi kita tak akan surut.”
Tetaplah jadi inspirasi dengan pikiran berkualitas.
…
Jlitheng

