Yang Tak Bisa Dipinjam

Banyak hal yang bisa dipinjam mendadak: payung, uang, atau baju untuk kondangan. Tapi ada yang tidak bisa dipinjam, sekalipun itu kepada saudara kandung: jam tidur, kesehatan, dan kebiasaan baik. Malam sebelum ujian, tidak ada gunanya meminjam rajinnya teman.
Perumpamaan Yesus yang bercerita tentang sepuluh gadis penyongsong mempelai. Lima bijaksana, lima bodoh. Menariknya, sampai tengah malam mereka kelihatan sama persis: sama-sama membawa pelita, mengantuk, dan sama-sama tertidur. Perbedaannya baru ketahuan saat mempelai itu datang: yang lima membawa minyak cadangan, yang lima tidak. Minyak itu ternyata tidak bisa dipinjam. Jawaban gadis-gadis bijaksana bukan penolakan, melainkan kenyataan: nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu.
Gadis-gadis bijaksana itu bukan pelit. Ada hal yang memang tidak bisa dialihkan ke orang lain. Iman tidak bisa menumpang iman orang tua. Kebiasaan berdoa tidak bisa difotokopi dari pasangan. Hati yang terlatih mengasihi tidak bisa dibeli semalam sebelum pintu ditutup. Minyak itu diisi tetes demi tetes, hari demi hari, jauh sebelum tengah malam tiba.
Kebijaksanaan itu tidak bermain petak umpet. Ia bersinar dan tidak dapat layu, mudah ditemukan oleh yang mencarinya. Bahkan ia mendahului memperkenalkan diri; siapa bangun pagi-pagi mencarinya akan mendapatinya duduk di dekat pintu. Allah tidak menyembunyikan bekal itu dari kita. Persoalannya hanya satu: apakah kita mau bangun dan mengambilnya.
“Lalu untuk apa semua penantian ini?”
Paulus menjawab sambil menghibur jemaat yang berduka: “Mereka yang meninggal dalam Kristus akan bangkit, dan kita akan selama-lamanya bersama dengan Tuhan. Ujung dari segala berjaga-jaga itu bukan bencana, melainkan perjumpaan. Perumpamaan Yesus pun memakai gambar pesta kawin, bukan penggerebekan. Bagi yang siap, kedatangan Tuhan adalah pesta. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini,” tutup Paulus. Penantian Kristiani dijalani bersama-sama, saling meneguhkan, bukan sendiri-sendiri.
Berjaga-jaga karena itu bukan hidup tegang menghitung tanda-tanda kiamat. Ia hidup biasa yang diisi setia: doa yang tidak putus, kasih yang dirawat, hati yang tidak menunda bertobat. Orang yang begitu boleh saja tertidur seperti kesepuluh gadis itu. Pelitanya tetap menyala. Minyak itu tidak mahal; ia hanya minta diisi setiap hari.
Pertanyaannya sederhana dan pribadi: kalau malam ini terdengar seruan, mempelai datang, berapa isi buli-buli minyak kita?
Tuhan, isilah buli-buliku hari demi hari dengan doa dan kasih, supaya saat Engkau datang, pelitaku terang dan aku ikut masuk ke perjamuan-Mu. Amin.
(Doa Katolik – KAS – Minggu, 08 Nopember 2026)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.