Refleksi Filosofis-Antropologis:
Kala Luka Abadi itu Kembali Berdarah

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Luka abadi itu tidak meminta untuk disembuhkan, tapi ia hanya meminta agar dia tidak dilupakan.”
(Didaktika Hidup Sejati)

Ketahuilah, bahwa di kolong langit ini, ada sejenis luka yang tidak pernah akan sembuh. Maka, ia belajar untuk bersikap diam.

Dalam konteks ini, ternyata manusia itu adalah makhluk yang paling pandai untuk bersandiwara. Ya, karena manusia berusaha untuk menutupinya lewat kesibukan, juga dengan senyuman palsu, dan bahkan lewat sepotong doa. Anda pun dapat menyimpulkan, bahwa luka itu sungguh telah pulih. Tapi, ternyata di suatu saat ia pun akan kembali berdarah. Darah itu dapat mengucur lagi di saat Anda mendengarkan sebuah lagu yang menyayat hati, misalnya.

  1. Karena Luka Abadi Bukanlah Luka Lecet di Kulit

Ya, itulah luka yang paling dalam, yakni di dalam ruangan hati.

Luka abadi itu bermula di saat dikhianati. Kala Anda bersikap polos dan tulus memberikan seluruh dirimu tanpa tanya.

Luka itu pun kapan saja akan kembali berdarah. Ya, karena sejarah awalnya yang begitu manis, tapi berakhir sadis. Itulah sebuah derita yang tak pernah sirna.

  1. Ia Berdarah Bukan demi menghancurkan Anda.

“Anamnesis,” artinya ingatan yang kambuh sebagai luka, tapi juga sebagai kebenaran, demikian di dalam istilah filsafat.

Kucuran darah itu hadir kembali bukan karena jiwamu lemah, melainkan karena jiwamu itu jujur. Ia tidak bersandiwara. Ingatlah, hanya pada orang-orang hidup yang masih sempat berdarah. Kucuran darah itu adalah bukti, bahwa Anda memang pernah sungguh-sungguh mencintai.

  1. Apa yang Harus Dilakukan?

Menghadapi realitas pedih ini, semoga Anda tidak tergesa-gesa untuk membalutnya dan pula jangan berkata, “Aku harus kuat.”

Sebaliknya, biarkan saja ia berdarah, bahkan santailah bersamanya dan berani berkata kepadanya, ” Ya, aku ingat … itu sungguh sakit.”

Seketika luka itu akan berhenti berdarah, ketika ia merasa didengarkan. Ikhlaslah, dan jangan menolaknya.

Camkan, bahwa luka abadi itu tidak meminta untuk disembuhkan, tapi ia hanya meminta untuk tidak dilupakan.

Juga pada akhirnya, luka abadi itu pun bukan sebagai musuhmu.

Ia adalah sang mantan dari secuil cinta yang sangat besar, hingga mampu meninggalkan tanda permanen di dalam jiwamu.

Kediri, 8 November 2026