Inisiatif Suci

Santo Yohanes Bosco atau lazim dipanggil Don Bosco memulai pekerjaan pelayanan orang muda, yang kemudian merintis jalan untuk pendirian Serikat Salesian atau SDB, dengan tersenyum, tertawa dan bersiul. Kejadiannya pada 8 Desember 1841. Di Gereja Santo Fransiskus Asisi di kota Turin, Italia, ia bertemu seorang anak miskin dan gelandangan. Don Bosco meminta anak itu untuk membuat tanda salib dan mengucapkan beberapa doa dasar yang sudah umum, tapi anak muda itu tidak mengetahui apa-apa.

Don Bosco lalu meminta anak itu tersenyum, tertawa, dan bersiul. Ia dapat melakukan itu sesuai dengan kemampuannya. Inisiatifnya itu kemudian membuka jalan baginya untuk mengajarkan dia berdoa, yang diikuti pada pertemuan-pertemuan berikutnya dengan bertambah banyak anak yang lain. Ini merupakan sebuah inisiatif suci, karena jalan dan pintu sungguh terbuka kepada suatu proses mengenal iman, mempelajari misteri-misterinya, dan akhirnya berjumpa dengan Tuhan yang menjadi sumber kebenaran dan hidup.

Kata inisiatif dari kata Latin ‘itiare’ atau ‘initium’ mengandung arti memulai atau mengawali. Kita memahaminya juga sebagai tindakan mengambil atau membuat langkah pertama dan membuat terobosan.

Dalam Injil yang baru saja kita dengar, Tuhan Yesus menguraikan tentang tuan yang kaya itu memuji pegawainya yang cerdik, meski ia berbuat tidak jujur karena memanipulasi data hutang para piutang tuannya. Ia cerdik namun ia bukan orang yang baik.

Kecerdikan dalam konteks kisah tersebut menunjuk pada kemampuan memperhitungkan masa depan. Pegawai tersebut mewakili orang-orang di dunia ini, termasuk kita, yang sering kawatir akan hari esok. Ada orang yang menabung banyak di bank. Ada yang lain investasi berupa tanah, rumah atau emas. Atau yang lain ingin menjamin masa depan dengan menyekolahkan anak cucunya sebaik mungkin. Semua itu adalah bentuk-bentuk inisiatif. Kita harus membuat inisiatif apa pun jenisnya dalam cara benar dan jujur. Kita akan dipuji oleh Tuhan karena mampu memperhitungkan masa depan kita sendiri.

Seharusnya kita juga dapat memperhitungkan masa depan hidup rohani kita. Santo Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi sungguh menyadari, bahwa arah kehidupan rohani para pengikut Kristus sering menjadi kabur atau disesatkan, karena ada banyak pengaruh dunia ini yang tidak benar. Maka Ia menyanggupi diri sebagai teladan yang harus diikuti. Banyak orang Kudus seperti Paulus, ingin kita meneladani mereka agar dapat memenuhi yang dikehendaki Tuhan atas diri kita masing-masing.

“Ya, Tuhan Yesus Kristus, terangilah selalu budi dan hati kami untuk selalu setia di jalan-Mu yang benar. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)