Refleksi Filosofis:
Sadisnya Rembesan Air Mata Buaya

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Sadisnya rembesan air mata itu, menjadikan dirimu seekor buaya juga.”
(Didaktika Hidup Sadar)

“Antara Tetesan dan Rembesan Air Mata”

  • Tetesan: Air mata yang jatuh, tampak ia jatuh, dan akan dapat dihapus.
  • Rembesan: Air mata itu tidak jatuh, tapi meresap, sunyi, tanpa kata dan suara.

Lihatlah pada ‘rembesan air’ yang makin lama, kian meresap di tembok rumahmu, yang akhirnya akan berjamur dan melapuk. Maka, lewat proses itu, ternyata ‘sadis’ juga, ya.

Jika air mata buaya yang menetes, itu masih bisa Anda curigai. Tapi, kalau air mata buaya yang merembes, maka Anda tidak akan pernah menyadarinya.

  1. Rembesan itu tidak minta untuk dikasihi, tapi dia minta dimaklumi

Tetesan Air Mata akan berkata, “Lihat, aku sedang menangis.” Sayangilah aku! Ya, dia tidak akan meraung meronta, tapi dia akan menghela nafas yang sangat panjang.

  1. Sadisnya rembesan adalah dia yang membuatmu akan menjadi buaya juga

Inilah hal yang paling gelap!

Jika, seseorang berbohong padamu, maka kamu akan melawannya. Tapi seseorang merembeskan dusta kecil setiap hari, “Maaf aku lupa,” dst. Maka, lambat laun, kamu akan merembes juga. Artinya kamu pun akan mulai berbohong pada dirimu sendiri: “Ah, mungkin memang aku yang berlebihan.” atau “Mungkin dia memang tidak seburuk itu.”

Rembesan air mata buaya itu akhirnya berhasil membuat matamu sendiri mengeluarkan air mata yang sama, yakni air mata yang menyangkal pada lukamu sendiri.

  1. Dalam filsafat, hal ini disebut ‘kekerasan yang sopan.’

“Ressentiment,” adalah dendam yang dibungkus menjadi moralitas,” demikian filsuf Nietzsche.

Ya, ‘rembesan air mata buaya’ adalah sebentuk ‘ressentiment’ yang paling sempurna. Perlu diingat, bahwa dia tidak menghukum, tapi dia membuatmu akan memukul dirimu sendiri.

Dia akan berkata “Aku menangis lho, karena perlakuanmu” (Padahal rahangnya masih berlumuran dagingnya).

“Apa Obat untuk Rembesan?”

Ya, jika ‘tetesan’ itu bisa dilap dengan tisu, tapi ‘rembesan’ itu akan berdampak, bahwa harus dibongkar temboknya.

Bagaimana caranya? Bukan dengan berdebat, apakah itu air mata asli ataukah palsu? Jika memang demikian, maka kamu pun tidak akan pernah menang.

Bertanyalah lewat satu hal yang sangat jujur pada diri sendiri: “Setelah air mata jatuh, apakah perilakunya akan berubah, ataukah aku yang harus berubah untuk menampung air matanya?”

Camkan!

  • Air mata yang tulus akan selalu diikuti oleh perubahan arah.
  • Air mata buaya akan selalu diikuti dengan permintaan, agar kamulah yang mengubah arah.

(1) Air mata tulus akan mengering dan meninggalkan kelegaan.

(2) Air mata palsu (buaya), akan meninggalkan lumut di dalam jiwamu.

Kediri, 5 November 2026