Refleksi Filosofis:
Bak Duri di Dalam Daging

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Sesungguhnya, setiap pribadi yang Anda jumpai, sedang berjalan sambil menahan sakitnya duri di dalam dagingnya.”
(Didaktika Hidup Sadar)

“Inilah sebuah perumpamaan tentang luka yang tersembunyi”

Jika duri itu menempel di kulit Anda, tentu akan sangat mudah untuk dicabut. Walaupun tentu akan terasa sakit, tapi itu hanyalah sesaat.

Jika duri itu tertancap jauh di dalam daging, walaupun tampak seolah sudah sembuh dan aman, tapi toh di dalamnya, hum, ada denyutan yang sangat mengganggu. Dari dalam diri Anda seolah-olah ada rengekan, ‘he… aku masih ada di dalam.’

Ketahuilah, bahwa bukankah setiap orang, justru memiliki duri tajam di dalam daging kehidupannya?

Ya, di dalam aneka kondisi kehidupan manusia:

  • Ada duri berupa kata maaf yang tidak pernah sempat diucapkan.
  • Ada duri berupa luka lama, akibat sebuah tindakan pengkhianatan.
  • Ada duri rasa bersalah, yang sudah dirasakan hampir di sepanjang hidup Anda.
  • Juga ada duri orang yang masih Anda cintai, padahal orang itu telah lama pergi dari sisi Anda.

Jika memang demikian, mengapa justru tidak dicabut saja?

Ya, karena manusia takut, ia tidak akan menahan rasa sakit. Artinya, Anda harus berani merobek luka lama itu yang sudah lama Anda pendamkan. Karena manusia tidak berani berkata dengan jujur, bahwa lukanya itu memang belum benar-benar sembuh.

Oleh karena itu, banyak orang akan membiarkannya, walaupun ia selalu diganggu oleh rasa nyeri yang sudah dianggapnya sebagai sebuah warisan baginya.

Rasul Paulus pun secara filosofi menyebutnya, sebagai “thorn in the flesh’ ya, itu adalah suatu alat pengingat, agar manusia itu tidaklah sombong.

Orang lain akan menyebutnya sebagai ‘guru’ agar manusia tidak lupa, bahwa dirinya itu hanyalah manusia biasa.

Ada Dua Sikap Pilihan Menghadapi Duri di Dalam Daging

  • Jika duri itu masih bisa dicabut, ya, dicabut sajalah, sekalipun akan terasa sangat sakit. Ya, mintalah maaf dan akuilah, bahwa Anda memang bersalah.
  • Jika memang sudah tidak bisa dicabut lagi, ya, jangan lagi mau melawannya. Ya, berdamailah dan biarlah setiap kali terasa ada denyutan, justru sebagai pengingat, agar Anda tetap dapat bersikap sabar serta lembut.

Camkan, bahwa sesungguhnya, setiap pribadi yang dijumpai di dalam hidup ini, justru sedang berjalan sambil manahan tusukan duri di dalam daging kehidupannya.

Kediri, 4 November 2026