Bangga dengan Identitas Kristiani

“Membanggakan diri itu seperlunya. Tapi membanggakan iman Kristiani itu perilaku hidup sejati.” -Mas Redjo

Kebanggaan itu kosong, sehingga tiada guna dipamerkan, apalagi demi mencari pujian. Karena bakal mencemari diri sendiri. Alangkah bijak, jika kita rendah hati. Semua hasil pencapaian dan yang kita miliki itu adalah anugerah Allah yang harus disyukuri.

Untuk menekan rasa bangga atau kebanggaan yang berlebihan itu adalah dengan mengendalikan diri dan tetap tenang agar kita rendah hati.

“Semua ini anugerah-Nya” adalah jawaban singkat dan tepat tanpa perlu untuk menjelaskan lebih ditail atau menonjolkan diri.

Jika kita disinggung atau ditanya prestasi atau hasil pencapaian diri, semua itu, karena kemurahan hati Allah. Tanpa mengandalkan Allah, kita tidak bisa berbuat banyak, dan tiada arti.

Jika berbincang dengan siapa pun itu lebih baik yang bersifat umum. Kita menjauhi untuk menonjolkan diri, dan meminimalkan kata-kata: aku atau saya, diganti dengan kita atau kami.

Mengedepankan kerendahan hati itu tidak sekadar kewajiban, tapi harus menjadi nafas umat Kristiani, karena kita meneladani Yesus yang adalah Sang Firman (Logos). Dia rela merendahkan diri dan menjadi manusia serta tinggal di antara kita (Yoh 1: 1, 14).

Identitas Kristiani itu harus menjadi nafas iman kita, baik kapan dan di mana pun kita berada. Misalnya, untuk memulai dan menyelesaikan suatu pekerjaan, perlombaan, atau makan di tempat umum dengan berdoa dan membuat tanda salib.

Bangga dengan identitas Kristiani. Hidup untuk bersaksi!

Mas Redjo