Tuhan ingin Pesta di Rumah-Nya Penuh

Kita mendengar, perjamuan besar oleh Tuhan terbuka untuk dihadiri semua orang yang diundang. Tuan pesta sangat ingin supaya rumah perjamuannya itu penuh. Banyak tempat duduk tersedia, undangan disampaikan berulang kali, bahkan terkesan memaksa, dan santapan sudah siap dinikmati. Semuanya menggambarkan, pesta nan besar.

Mereka yang menyanggupi dan datang ke pesta itu memperoleh keuntungan dengan mengambil bagian di dalamnya, dibandingkan dengan kerugian bagi yang menolaknya. Hal yang ingin Tuan pesta harapkan adalah supaya pestanya penuh. Apakah, jika tidak penuh ia akan rugi, karena sudah terlanjur menyiapkan semuanya? Bisa jadi benar. Tapi jika kehendak supaya rumah itu penuh dilihat dari pihak Tuhan dan Kerajaan-Nya, pemahamannya menjadi berbeda.

Tuhan mengundang, karena tujuannya supaya semua manusia ciptaan-Nya itu selamat. Kenapa orang sampai berpikir menolak ajakan untuk menjadi selamat? Dalam arti sempit, rumah perjamuan pesta itu dapat dilihat dalam bentuk Gereja-gereja kita yang mulai kosong, terutama di wilayah Eropa dan sebagian wilayah lainnya di dunia. Memang gaya hidup saat ini berpengaruh menarik umat Tuhan untuk tidak selalu memasuki rumah-rumah ibadat. Desakan Tuhan supaya rumah-rumah ibadat harus penuh itu ada benarnya juga untuk kita.

Dalam pandangan yang lebih luas dan yang menjadi intinya ialah, bahwa Kerajaan Allah merupakan suatu persekutuan hidup orang-orang yang percaya, dan itu yang kita sebut Gereja. Di dalam persekutuan ini, apakah pemahaman, keyakinan, perayaan dan penghayatan iman itu penuh, ataukah masih terlihat kosong? Tidak ada lagi pewahyuan baru yang akan melahirkan perintah-perintah baru. Kitab Suci dan perintah-perintah-Nya sudah final, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Kitalah yang berusaha memenuhi diri ini supaya sesuai dengan Kitab Suci dan ajarannya.

Santo Paulus kepada jemaat di Filipi menggarisbawahi sikap Tuhan yang rendah hati, yang membuka dan menyediakan rumah-Nya bagi semua orang. Tuhan bahkan mengambil rupa hamba dan sama dengan manusia, sehingga Ia tidak tampak menakutkan bagi manusia. Prinsipnya: jangan ada satu pun dari kita datang dan bergabung dengan otak, hati dan tangan kosong. Tidak ada karunia yang kosong, tapi ia mesti ada isi dan buahnya. Itu sangat tergantung kita.

“Allah Bapa yang Maha Kasih, berkatilah kami agar membuahkan setiap karunia di dalam diri masing-masing, sehingga kami dapat membangun bersama persekutuan hidup di dunia ini. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)