Meneladan Kerendahan Hati Yesus

“Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2: 8).

Yesus Kristus adalah teladan kerendahan hati yang sempurna. Sebagai Putra Allah, Ia memiliki kemuliaan Ilahi, tapi Ia rela mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Ia datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya bagi keselamatan manusia. Kerendahan hati Yesus tampak dalam ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa. Ia tidak mencari kehendak-Nya sendiri, melainkan dengan penuh kasih menerima rencana Allah, bahkan ketika jalan yang harus ditempuh adalah penderitaan dan salib.

Di taman Getsemani, Yesus menunjukkan penyerahan diri yang sempurna dengan berkata, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Bdk. Mat 26: 39).

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk meneladani sikap-Nya. Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri atau merasa tidak berharga, melainkan menyadari, bahwa segala sesuatu adalah anugerah Allah dan bersedia menjalankan kehendak-Nya. Kita dapat menunjukkan kerendahan hati melalui ketaatan, pelayanan kepada sesama, kesediaan mengampuni, dan rasa syukur dalam setiap keadaan.

Sr. M. Yoanita, P. Karm

Selasa, 03 November 2026
Flp 2: 5-11; Mzm 22: 26-32; Luk 14: 15-24

Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com