Kemuliaan Sejati dengan Pemberian Diri

Paulus menggambarkan Yesus yang mengosongkan diri hingga wafat di salib. Sikap ini bukan sekadar kepasrahan, melainkan juga kebesaran jiwa, karena mengutamakan kepentingan Allah dan sesama di atas keinginan pribadi. Dalam dunia yang sering mengagungkan pencapaian individu, teladan Yesus mengingatkan, bahwa kemuliaan sejati justru lahir dari pengosongan diri dan pemberian diri.

Perumpamaan tentang orang-orang yang menolak undangan perjamuan, karena sibuk dengan berbagai urusan mencerminkan kecenderungan manusia modern: terperangkap dalam rutinitas hingga lupa, bahwa Tuhan menawarkan sukacita yang lebih mendasar. Undangan Tuhan tidak terbatas pada mereka yang ‘layak’, tapi bagi semua yang mau membuka hati. Saat kita sibuk mengejar karier atau menumpuk harta, mungkin kita justru sedang menghindari panggilan-Nya untuk terlibat dalam karya kasih yang nyata.

Sejatinya kerendahan hati dan ketersediaan merespons kasih Allah adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Berani melepas ego berarti berani menjadi ‘ruang kosong’ yang siap diisi rencana-Nya. Ketika kita hanya mengisi hidup dengan hal-hal duniawi, kita menutup pintu bagi undangan-Nya.

Hidup beriman bukan tentang kesempurnaan, melainkan keberanian mengatakan ‘ya’ pada tawaran Allah, bahkan saat kita merasa tidak layak atau tak siap.

Ya, Bapa, ajarlah kami kerendahan hati seperti Putra-Mu. Bukalah mata kami agar tidak melewatkan undangan-Mu dalam keseharian hidup kami. Amin.

Ziarah Batin