Refleksi Filosofis:Pada Mulanya hanyalah Kata

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Kata lebih tua daripada batu. Sebuah batu bisa hancur, tapi
kata yang menciptakannya tetaplah utuh.”
(Filosofi Kata)

“En Arche en Ho Logos”
“Pada Mulanya adalah Firman”

  1. Dunia Tidak Dibuat dari Batu, tapi dari Kata

Jika Anda hendak membuat sebuah meja, tentu Anda membutuhkan papan, paku, palu, dan gergaji, bukan?

Tatkala Anda menginginkan dunia ini menjadi terang dan bercahaya, maka Allah pun berkata, “Fiat Lux” “Jadilah Terang.” Maka jadilah terang. Hal ini bermakna, bahwa bahan baku alam semesta ini bukanlah ‘atom’, tapi ‘kata’.

Ternyata kata itu jauh lebih tua daripada batu. Sebuah batu, bahkan bisa hancur, tapi kata yang menciptakannya tetaplah utuh dan ada.

Bahkan jauh sebelum filsuf Yunani, leluhur Jawa pun sudah berkata, “Sabda Pandita Ratu” yang adalah “Sabda Seorang Pemimpin.”

Itulah sebabnya, maka dosa pertama manusia itu bukan karena makan buah, melainkan karena mendengarkan kata yang salah.

  1. Mengapa Kita Hidup Berantakan?

Ya, karena kata-kata kita pun selalu berantakan. Hidup manusia itu berantakan justru karena kita lupa, bahwa pada mulanya hanyalah kata. Mungkin kita mengira, bahwa kata-kata itu hanyalah angin. “Ah, itu kan cumalah kata-kata.”

Filsuf J. L. Austin menemukan kembali kebenaran Kitab Suci lewat filsafat modern. Ia berkata, bahwa kata-kata yang disebut ‘performative Utterance’ ‘kata yang melakukan apa yang dikatakan.’

Semisal:
(1) Jika Penghulu berkata, “Aku nikahkan kamu.” Kata-kata itu tidak menggambarkan pernikahan, tapi justru menciptakan pernikahan itu.
(2) Jika Hakim berkata, “Saya jatuhkan palu hukuman bagimu.” Kata-kata itu pun menciptakan penjara.
(3) Jika Ibu berkata, “Kamu itu memang bodoh.” Mungkin Anda mengira ucapan itu hanyalah sebuah kemarahan, tidak. Tapi itu adalah sebuah palu yang mematikan anak. Ibu itu justru sedang menciptakan seorang anak yang akan merasa dirinya bodoh selamanya.

Kita tidak pernah hanya berkata. Tapi kita selalu sedang menciptakan sebuah dunia.

“Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
(Matius 12: 36-37)

  1. Lalu Bagaimana Cara Memperbaiki Dunia? Kembali ke Kata yang Pertama

Jika dunia ini hancur akibat kata yang salah, maka untuk memperbaikinya perlu kembali kepada kata yang awal.

Bukankah Yohanes pun tidak berkata, “Pada mulanya adalah Kekuatan.” Tidak. Tapi, “Pada mulanya adalah Kata.” (Logos).

Ya, logos itu bukanlah tulisan di atas langit, tapi Ia adalah sesosok pribadi yang menulis langit.

Jadi, bagaimana agar kita bisa belajar berkata-kata lagi dengan benar?

Ya, ingatlah bahwa para orang tua kita telah mengajarkan laku:
“Tata, Titi, Tatas, Titis.”

  • Tata: Aturlah kata-katamu sebelum engkau bertutur. Bahkan lebih baik diam, karena diam itu adalah emas.
  • Titi: Teliti. Telitilah dan berhati-hatilah laksana orang menanam bibit padi. Janganlah asal lempar. Ingatlah, sebuah kata yang teliti, akan lebih kuat daripada seribu kata berisik.
  • Tatas: Tuntas. Jika, Anda sudah ucapkan sebuah janji, maka segeralah tuntaskan isi janjimu itu. Janganlah berprinsip janji tinggal janji, seperti teriakan di masa kampanye politik itu.
  • Titis: Tepat sasaran. Efektif. Belajarlah untuk berkata-kata yang tepat pada sasaran serta tepat pada waktunya. Bahkan kasih yang tepat waktu pun ibarat sebuah mukjizat.

Ya, pada mulanya hanyalah kata. Demikian pula pada akhirnya.

Maka, isilah hidupmu dengan sebuah kata yang paling arif, “Terima kasih, Tuhan.”

Kediri, 29 Oktober 2026