Refleksi Filosofis:Uang Darah di Tangan Berdarah

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Manusia tidak pernah boleh dijadikan alat, manusia itu adalah tujuan”
(Filsuf Emanuel Kant)

Inilah sebuah cermin bagi manusia di zaman ini!

  1. Apa itu Uang Darah?

“Dhuit Getih,” “Uang Haram” (Jawa). ‘Uang darah’ itu adalah sejenis uang yang mengerikan. Uang jenis ini masih selalu tampak ‘memerah,’ karena baru saja diperas dari luka sesama manusia.

Adapun Uang Darah Memiliki Tiga Ciri

  • Pertama: ia datang, karena ada yang dikhianati. Masih ingatkah Anda pada 30 keping perak di dalam erat genggaman tangan si licik Yudas?

Sekalipun hukum penjajah Romawi, bahwa hal itu bukanlah tindakan haram, tapi di balik setiap kepingnya ada rintihan dan jeritan suara sahabat (Sang Guru), yang telah dijualnya. Perlu diingat, bahwa Yudas tidak membenci Yesus, tapi ia lebih mencintai uang daripada nasib Gurunya.

  • Kedua: ia datang, karena ada yang dilukai: seperti uang hasil menipu para petani, hasil dari menjual obat palsu, merampok kas negara, hasil dari konten yang menghancurkan nama baik orang lain. Ya, uang itu riil telah masuk kantong dan menebalkan pundi-pundi. Tapi, secara langit, perolehan uang itu justru lewat proses penetesan darah.
  • Ketiga: ia tidak pernah bisa dicuci. Hal inilah yang justru sangat mengerikan. Tangan kita yang berdarah dapat dicuci dengan air. Tapi uang darah di tangan berdarah itu tidak bisa dicuci dengan air. Jika dicuci, maka ia pun akan semakin merah, karena darahnya itu bukan melekat pada kulit, tapi dalam nurani manusia.

Ya, itulah uang hasil dari makan tulang temannya sendiri (mangan balung kancane – Jawa). Perampok itu merasa seolah kenyang, tapi tulang itu justru selalu gerogoti perutnya.

  1. Mengapa Tangan Berdarah Suka Memegang Uang Darah?

Inilah soal godaan Iblis yang sudah bermula dari Taman Eden.

Ilusinya, jika Anda itu orang berduit, maka tanganmu yang berdarah itu pun akan tampak bersih. Sesama pun akan bersembah sujud padamu.

Orang-orang pun akan berpikir, bahwa biarlah tangan ini berdarah dengan menginjak sesama, membohongi sesama, asalkan mempunyai banyak uang.

Ternyata filsuf Emanuel Kant membongkar kebohongan itu dengan berkata, “Manusia tidak pernah boleh dijadikan alat. Manusia itu adalah tujuan.”

Tengoklah sekali lagi pada figur Yudas. Apakah yang akhirnya ia lakukan dengan segepok uang darah itu? Ternyata ia tidak sempat menikmati sesen pun dari uang itu. Malah dilemparkannya uang itu ke Bait Allah. Inilah simbol, bahwa perutnya terbelah dan uang itu pun akhirnya digunakan untuk membeli sebidang Tanah Darah (tempat menguburkan orang asing).

  1. Apakah Ada Jalan ke luar bagi Tangan Berdarah?

Kitab Injil tidak pernah berkata, bahwa ‘tangan berdarah itu harus dipotong.’ Tapi, ‘tangan berdarah itu harus dibuka!’

Camkan dan ingatlah pada kedua tangan berdarah di sekitar Salib!

  • Tangan si licik Yudas yang menggenggam uang darah. Tangannya terkepal menggenggam erat uang darah itu. Akhirnya, ia menggantungkan dirinya.
  • Tangan Yesus yang juga berdarah. Ya, berdarah, karena dipakukan. Tapi tangan Yesus terbuka, Ia tidak mengepal, karena tidak memegang uang.

“Dua darah. Dua tangan berdarah,” yang satu menggenggam demi dirinya sendiri, dan yang satu terbuka demi banyak orang.

Yudas, sekalipun telah membuang uang itu, tapi ia akhirnya tetap binasa. Mengapa? Karena yang dibuangnya itu hanyalah uangnya, tapi bukan eratnya genggamannya.

Bukanlah proses pertobatan itu justru lewat membuka kepalan tangan?

“Bagaimanakah Anda Membuka Kepalan Tanganmu Hari Ini?”

Dalam Budaya Jawa terdapat tiga ungkapan yang sangat menarik.

  • Laku 1: ‘Eling’ – Mengakui dari manakah uang darah itu berasal? “Tuhan, apakah aku juga sempat memeras sesamaku pada hari-hari ini?
  • Laku 2: ‘Ngelongi’ – Mengurangi Genggaman, segera sadar dan kembalikan milik sesamamu.
  • Laku 3: ‘Ngeli’ – Mengalirkan, ‘Hendaklah uang darah yang terlanjur ada, janganlah dihabiskan untuk dirimu sendiri, tapi alirkan. Jadikan ia berhenti sebagai uang darah dan mulai menjadi air. Caranya? Belilah beras untuk anak-anak di panti asuhan, tapi ingat, bukannya demi pencitraan!

Kediri, 28 Oktober 2026