Iman Biji Sesawi

Coba Anda perhatikan setiap kali diadakan sekolah Minggu, bagaimana para Guru atau Kakak pembina mengajarkan anak-anak berdoa. Mereka itu memang harus dilatih membuat tanda salib, mengatupkan tangan di dada, melafalkan kata-kata doa seperti ‘Dalam nama Bapa’, ‘Bapa Kami’, ‘Salam Maria’. Mereka menampakkan dengan sangat jelas, bahwa awal perjalanan iman mereka sangatlah kecil dan sederhana. Hal yang sama terjadi pada kita semua, ketika mulai beriman.
Permulaan iman yang kecil dan sederhana itu diumpamakan oleh Yesus seperti biji sesawi. Kerajaan Allah itu berwujud pada kehadiran Tuhan yang menjelma dalam aneka penampilan berupa hal, benda, dan pribadi. Wujudnya yang sempurna ialah pribadi Yesus Kristus. Dalam hubungan dengan Yesus, kita mengalami suasana rohani seperti berdoa, persekutuan seperti medengarkan firman dan merayakan Ekaristi, dan suasana pelayanan seperti mendampingi mereka yang putus asa dan sakit. Permulaan terjadinya hubungan itu jelas sekali berwujud sangat sederhana dan kecil.
Permulaan sebuah pengalaman pencerahan dan orientasi iman juga berwujud kecil dan sederhana. Seorang anak kelas 4 SD mengerjakan tugas pelajaran agama. Ia minta Bapaknya yang bukan Katolik untuk membantunya. Bapak itu tidak bisa berbuat banyak dengan pertanyaan seputar agama Katolik. Padahal ia sangat sayang anaknya dan ingin membantunya. Peristiwa kecil itu menjadi titik awal ia memutuskan untuk mengubah orientasi imannya menjadi seorang penganut Katolik. Sehingga ia dapat bersama isteri membesarkan dan mendidik anak-anaknya secara Katolik.
Iman biji sesawi menyingkapkan berbagai bentuk kenyataan, bahwa Tuhan Allah dan Kerajaan-Nya tampil dalam keadaan yang kecil, sederhana, dan sering tidak disadari manusia. Alasannya, karena apa pun dan bagaimanapun, suatu penampilan senantiasa dibentuk oleh unsur-unsurnya yang kecil dan berbeda satu sama lain. Unsur-unsur itu sering tidak pernah dilihat atau disadari. Suami istri yang hidup harmonis sangat bergantung pada karakter dan ketulusan cinta masing-masingnya. Demikian juga hubungan Kristus dengan jemaat yang menyatu, sangat ditentukan oleh ketahanan iman setiap anggota jemaat dan jenis-jenis pelayanan yang dilakukan para anggotanya.
Iman biji sesawi mengingatkan kita akan dua hal yang penting di sini, yaitu proses dan setiap bagian yang berproses. Kita perlu selalu taat dengan proses dan setiap elemen harus ikut di dalam proses itu. Sehingga membentuk fundamental dalam perjalanan iman kita kepada kesempurnaan.
“Tuhan yang Maha Murah, terimalah pernyataan iman kami, ketika mendengar, merenungkan, dan melaksanakan firman-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.