Bungkuk

Punggung adalah bagian tubuh yang paling jujur. Beban hidup yang lama dipikul pelan-pelan tercetak di sana. Orang Jawa punya keluhan khasnya sendiri: sakit boyok. Kalau boyok sudah bicara, seluruh badan ikut susah.

Dalam Injil (Luk 13: 10-17) ada perempuan yang sudah delapan belas tahun bungkuk, tidak dapat berdiri tegak. Lukas menyebutnya diikat oleh Iblis. Delapan belas tahun memandang tanah. Delapan belas tahun tidak bisa menatap wajah orang lurus-lurus. Ia bahkan tidak minta disembuhkan; mungkin sudah berdamai dengan nasibnya.

Yesus melihatnya. Ia memanggil lebih dulu: “Hai, Ibu, penyakitmu telah sembuh.” Ia meletakkan tangan-Nya, dan seketika itu juga perempuan itu berdiri tegak dan memuliakan Allah.

Kepala rumah ibadat justru gusar: ada enam hari untuk bekerja, jangan hari Sabat. Aturan dipegang erat, manusia diabaikan. Jawaban Yesus telak: kamu saja melepaskan lembu dari kandang pada hari Sabat untuk diberi minum. Masakan keturunan Abraham ini tidak boleh dilepaskan dari ikatannya?

Banyak orang berjalan tegak, tapi jiwanya bungkuk: ditekuk rasa bersalah, dendam lama, atau luka yang tidak pernah diceritakan. Kabar baiknya masih sama seperti dulu: Yesus melihat, memanggil, dan melepaskan.

Tuhan, lihatlah bagian hidupku yang masih bungkuk, dan tegakkanlah aku untuk memuliakan Engkau. Amin.

(Doa Katolik – KAS – Senin, 26 Oktober 2026)