Berlagak Suci

“Kesucian yang Anda gapai hendaknya membuatmu semakin rendah hati dan mencintai sesama. Bila yang terjadi adalah Anda memandang remeh dan menganggap orang lain tidak layak berdiri bersamamu di hadirat Allah, maka sesungguhnya ‘berlagak suci’ adalah karaktermu.”

Kepala Rumah Ibadat gusar melihat Yesus berbuat baik, di satu pihak menegakkan aturan kesucian hari Sabat, tapi jauh di kedalaman hatinya yang gersang. Ia telah kehilangan rasa dan nilai kemanusiaan yang dilayani oleh hukum atau aturan, yakni keselamatan jiwa manusia. Kepala Rumah Ibadat itu tidak sadar, bahwa semua aturan dan hukum akan ditinggalkan di dunia, dan hanya jiwa manusialah yang kembali kepada Sang Khalik.

Kita disadarkan, bahwa:

    1. Menaati aturan itu penting. Jika kita mengabaikan kepentingan dan keselamatan jiwa-jiwa maka sesungguhnya kita telah kehilangan semangat dan hakikat dari hukum/aturan itu;
    1. Menjadi suci itu adalah panggilan jiwa setiap orang, tapi jangan berlagak suci yang membuat kita kehilangan cita rasa kemanusiaan;
    1. Melakukan kebaikan hendaknya tidak dibatasi oleh aturan atau hukum yang ada. Justru aturan hendaknya menuntun dan memberi ruang bagi seseorang untuk semakin berbuat baik.

Akhirnya sadarlah, bahwa berlagak suci hanyalah topeng yang menyembunyikan noda yang terpatri pada tubuh dan jiwamu.

Monsignor Inno Ngutra, Pr